Andi Ahmad S
Jum'at, 19 Juni 2026 | 22:32 WIB
Feri Wicaksono saat menunjukan green bean miliknya yang siap untuk dijual. [Dimas Angga/SuaraJatim]
Baca 10 detik
  • Feri Wicaksono di Sidoarjo menghadapi kenaikan harga biji kopi akibat cuaca buruk dan faktor ekonomi global.
  • Penurunan daya beli masyarakat akibat PHK menyebabkan omzet penjualan pelaku usaha kopi merosot lebih dari 50 persen.
  • Kombinasi kenaikan biaya produksi dan melemahnya permintaan konsumen mengancam kelangsungan ekonomi para pelaku industri kopi nasional.

SuaraJatim.id - Industri kopi yang selama satu dekade terakhir menjadi simbol tumbuhnya ekonomi kreatif kini menghadapi tantangan serius. Di saat harga biji kopi terus merangkak naik akibat gangguan produksi dan tekanan pasar global, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan tajam.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Feri Wicaksono, pemilik Ayu Coffee, usaha penjualan biji kopi mentah (green bean) di Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.

Menurutnya, kenaikan harga kopi di tingkat petani mulai terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS hingga berkurangnya hasil panen akibat cuaca yang tidak menentu.

"Memang ada kenaikan harga kopi. Faktor cuaca menjadi salah satu penyebab utama karena panen tahun ini diperkirakan tidak sebanyak tahun lalu. Terlalu banyak hujan tidak bagus, terlalu panas juga tidak baik untuk pertumbuhan bunga kopi," kata Feri.

Ia memperkirakan produksi kopi tahun ini akan mengalami penurunan signifikan. Akibatnya, stok yang tersedia di pasaran semakin terbatas, sementara permintaan tetap tinggi. Situasi tersebut berpotensi mendorong harga kopi naik lebih jauh dalam beberapa bulan mendatang. Namun, persoalan yang lebih mengkhawatirkan justru datang dari sisi konsumen.

Feri mengungkapkan bahwa sejumlah pemilik warung kopi dan pelaku usaha minuman yang menjadi pelanggannya mengeluhkan turunnya jumlah pembeli. Fenomena itu dinilai berkaitan erat dengan melemahnya kondisi ekonomi masyarakat.

Menurutnya, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan semakin sulitnya lapangan pekerjaan membuat masyarakat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan nonprimer, termasuk menikmati kopi di kafe maupun warung kopi.

"Teman-teman pemilik warung kopi banyak yang mengeluhkan penurunan penjualan. Daya beli masyarakat memang menurun. Sekarang banyak PHK, banyak orang kesulitan mencari pekerjaan. Dampaknya terasa sampai ke sektor kopi," ujarnya.

Tekanan ganda antara kenaikan harga bahan baku dan menurunnya jumlah konsumen membuat bisnis kopi kehilangan momentum yang sempat dinikmati sebelum pandemi Covid-19 dan juga kenaikan nilai Dolar.

Baca Juga: Kejurnas Tenis Piala Ketua MA RI 2026 Dibuka di Malang, Khofifah Dorong Sport Tourism Jatim

Feri mengaku volume penjualan green bean miliknya saat ini hanya sekitar satu ton selama enam bulan terakhir. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelum pandemi dan sebelum kondisi ekonomi mengalami perlambatan seperti sekarang.

Ia memperkirakan penurunan penjualan telah mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan masa-masa terbaik usaha kopi beberapa tahun lalu.

"Sebelum pandemi dan beberapa tahun lalu, jualan jauh lebih enak. Sekarang penurunan lebih dari 50 persen. Banyak faktor, tapi yang paling terasa ya karena daya beli masyarakat menurun," katanya.

Sementara itu, Distributor Kopi ECO, Prapti Sumantri mengatakan hal yang serupa, bahwa memasarkan kopi ke kedai-kedai kopi juga mengalami penurunan, bahkan tak seperti biasanya.

"Dulu memasarkan jenis Arabika cukup mudah, tapi karena lonjakan harga yang cukup luar biasa, kami sebagai penjual kopi mau tak mau mengurangi," ujarnya.

Selain itu, permintaan dari kedai kopi di Surabaya dan sekitarnya juga mulai menurun, sehingga dia juga mengurangi jumlah belanjaan kopinya.

Load More