Fabiola Febrinastri | RR Ukirsari Manggalani
Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:33 WIB
Gubernur Khofifah menyalurkan bantuan air bersih di Desa Kenongrejo Ngawi, dengan demikian kebutuhan dasar 196 KK terdampak kekeringan bisa dipenuhi. (Dok. Pemprov Jatim)

SuaraJatim.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyalurkan bantuan air bersih dan sarana penampungan air bagi warga terdampak kekeringan di Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Rabu (21/10/2026).

Bantuan ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Jatim bersama pemerintah kabupaten untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.

Terutam karena di Dusun Gagan, kekeringan berdampak pada 196 kepala keluarga (KK) atau 350 jiwa. Sumur-sumur warga mulai mengering sehingga masyarakat bergantung pada distribusi bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus kita upayakan tetap terpenuhi. Kami ingin memastikan masyarakat terdampak mendapatkan layanan distribusi air bersih. Pada saat yang sama, langkah mitigasi harus disiapkan secara lebih komprehensif karena kemarau kali ini berlangsung lebih panjang,” ujar Khofifah.

Untuk mendukung kebutuhan warga, disiapkan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter, dua tandon, dua tandon lipat, serta 100 jeriken.

Secara keseluruhan, bantuan Pemprov Jatim untuk penanganan kekeringan di Kabupaten Ngawi mencakup dukungan distribusi air bersih senilai Rp307.115.065, 25 tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter, 420 jeriken berkapasitas 15 liter, dan 200 terpal.

Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Jawa Timur, kekeringan di Kabupaten Ngawi berdampak pada 1.624 KK atau 4.723 jiwa yang tersebar di 22 desa pada tujuh kecamatan, yakni Bringin, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Ngawi, dan Pitu.

Khofifah menegaskan bahwa distribusi bantuan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setiap wilayah. Pemutakhiran data serta koordinasi antara BPBD provinsi, BPBD kabupaten, kecamatan, dan pemerintah desa diperlukan agar pasokan air menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.

Selain distribusi air, Pemprov Jatim juga mendorong pemanfaatan sumber air alternatif untuk memperkuat penanganan jangka panjang. Dalam kunjungan tersebut, Khofifah meminta Dinas Sumber Daya Air meninjau potensi sumber air yang menurut informasi pemerintah kabupaten berada sekitar dua kilometer dari kawasan terdampak.

Baca Juga: Dukung Penguatan Pengelolaan Zakat di Jatim, Gubernur Khofifah Raih Grand Zakat Award 2026

“Kalau memang ada sumber air yang relatif dekat, perlu kita cek kondisi dan potensi pemanfaatannya. Harapannya, kita tidak hanya mengandalkan distribusi bantuan, tetapi juga menyiapkan solusi yang lebih berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat di sekitar sumber air,” jelasnya.

Secara regional, hingga 15 Oktober 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Timur membutuhkan distribusi air bersih untuk penanganan kekeringan. Sebanyak 24 daerah telah menerbitkan surat keputusan (SK) kedaruratan, sementara distribusi air bersih telah dilaksanakan di 25 kabupaten.

Khofifah mengatakan, upaya mitigasi perlu diperkuat karena hujan diperkirakan baru meningkat pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027, berdasarkan informasi BMKG yang disampaikannya. Salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Jatim adalah operasi modifikasi cuaca (OMC), dengan pelaksanaan menyesuaikan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang mendukung.

Pemprov Jatim juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar melalui Salat Istisqa’. Khofifah menyebutkan, surat edaran telah diterbitkan untuk mendorong pelaksanaannya di berbagai lingkungan, termasuk pesantren dan organisasi kemasyarakatan Islam.

“Kami mengajak agar ikhtiar ini dilakukan bersama-sama. Jika memungkinkan, setelah Salat Jumat dilanjutkan dengan Salat Istisqa’. Kemarin kami juga menerbitkan surat edaran agar Salat Istisqa’ dapat dilaksanakan di berbagai lini, termasuk pesantren, ormas Islam, Dewan Masjid Indonesia, dan MUI. Kita memohon agar hujan segera turun membawa rahmat dan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya

Di tengah penanganan kekeringan, Khofifah turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Ia menyampaikan bahwa jumlah titik panas atau hotspot di Jawa Timur yang sebelumnya tercatat lebih dari 600 titik telah turun menjadi 92 titik pada malam sebelum kunjungan, berdasarkan data pemantauan yang disampaikan dalam keterangannya.

Load More