SuaraJatim.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyalurkan bantuan air bersih dan sarana penampungan air bagi warga terdampak kekeringan di Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Rabu (21/10/2026).
Bantuan ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Jatim bersama pemerintah kabupaten untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.
Terutam karena di Dusun Gagan, kekeringan berdampak pada 196 kepala keluarga (KK) atau 350 jiwa. Sumur-sumur warga mulai mengering sehingga masyarakat bergantung pada distribusi bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus kita upayakan tetap terpenuhi. Kami ingin memastikan masyarakat terdampak mendapatkan layanan distribusi air bersih. Pada saat yang sama, langkah mitigasi harus disiapkan secara lebih komprehensif karena kemarau kali ini berlangsung lebih panjang,” ujar Khofifah.
Untuk mendukung kebutuhan warga, disiapkan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter, dua tandon, dua tandon lipat, serta 100 jeriken.
Secara keseluruhan, bantuan Pemprov Jatim untuk penanganan kekeringan di Kabupaten Ngawi mencakup dukungan distribusi air bersih senilai Rp307.115.065, 25 tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter, 420 jeriken berkapasitas 15 liter, dan 200 terpal.
Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Jawa Timur, kekeringan di Kabupaten Ngawi berdampak pada 1.624 KK atau 4.723 jiwa yang tersebar di 22 desa pada tujuh kecamatan, yakni Bringin, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Ngawi, dan Pitu.
Khofifah menegaskan bahwa distribusi bantuan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setiap wilayah. Pemutakhiran data serta koordinasi antara BPBD provinsi, BPBD kabupaten, kecamatan, dan pemerintah desa diperlukan agar pasokan air menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Selain distribusi air, Pemprov Jatim juga mendorong pemanfaatan sumber air alternatif untuk memperkuat penanganan jangka panjang. Dalam kunjungan tersebut, Khofifah meminta Dinas Sumber Daya Air meninjau potensi sumber air yang menurut informasi pemerintah kabupaten berada sekitar dua kilometer dari kawasan terdampak.
Baca Juga: Dukung Penguatan Pengelolaan Zakat di Jatim, Gubernur Khofifah Raih Grand Zakat Award 2026
“Kalau memang ada sumber air yang relatif dekat, perlu kita cek kondisi dan potensi pemanfaatannya. Harapannya, kita tidak hanya mengandalkan distribusi bantuan, tetapi juga menyiapkan solusi yang lebih berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat di sekitar sumber air,” jelasnya.
Secara regional, hingga 15 Oktober 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Timur membutuhkan distribusi air bersih untuk penanganan kekeringan. Sebanyak 24 daerah telah menerbitkan surat keputusan (SK) kedaruratan, sementara distribusi air bersih telah dilaksanakan di 25 kabupaten.
Khofifah mengatakan, upaya mitigasi perlu diperkuat karena hujan diperkirakan baru meningkat pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027, berdasarkan informasi BMKG yang disampaikannya. Salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Jatim adalah operasi modifikasi cuaca (OMC), dengan pelaksanaan menyesuaikan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang mendukung.
Pemprov Jatim juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar melalui Salat Istisqa’. Khofifah menyebutkan, surat edaran telah diterbitkan untuk mendorong pelaksanaannya di berbagai lingkungan, termasuk pesantren dan organisasi kemasyarakatan Islam.
“Kami mengajak agar ikhtiar ini dilakukan bersama-sama. Jika memungkinkan, setelah Salat Jumat dilanjutkan dengan Salat Istisqa’. Kemarin kami juga menerbitkan surat edaran agar Salat Istisqa’ dapat dilaksanakan di berbagai lini, termasuk pesantren, ormas Islam, Dewan Masjid Indonesia, dan MUI. Kita memohon agar hujan segera turun membawa rahmat dan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya
Di tengah penanganan kekeringan, Khofifah turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Ia menyampaikan bahwa jumlah titik panas atau hotspot di Jawa Timur yang sebelumnya tercatat lebih dari 600 titik telah turun menjadi 92 titik pada malam sebelum kunjungan, berdasarkan data pemantauan yang disampaikan dalam keterangannya.
Berita Terkait
-
Dukung Penguatan Pengelolaan Zakat di Jatim, Gubernur Khofifah Raih Grand Zakat Award 2026
-
Gubernur Khofifah Dampingi Wapres Gibran Tinjau Pabrik Sepeda, Industri Dalam Negeri Kuasai Ekspor
-
Gubernur Khofifah Serahkan Bantuan Alsintan ke Petani Lamongan: Teknologi & Inovasi Efektif-Efisien
-
Atasi Krisis Air Bersih di Sumenep, Khofifah Salurkan Bantuan dan Rencanakan Sumur Bor 2027
-
Gubernur Khofifah Sampaikan Keberhasilan Nawa Bhakti Satya Saat Pimpin Upacara Hari Jadi ke-81Jatim
Terpopuler
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Pengamat Nilai Manuver KSP Listyo Bongkar Hambatan Birokrasi Jadi Investasi Jangka Panjang
- Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Sakit Apa? Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
Pilihan
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
Terkini
-
Songsong Usia 131 Tahun, BRI Perkuat Komitmen Majukan Ekonomi Indonesia
-
Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Air Bersih 196 KK Terdampak Kekeringan di Desa Kenongrejo Ngawi
-
Warga Blitar Menjerit BBM Sulit, Polisi Malah Temukan 6.000 Liter Pertalite Mengendap di SPBU
-
Rencana Hibah Rp2,3 Miliar untuk Kampung Religi Gus Iqdam Disorot DPRD: Ponpes di Blitar Bukan Satu
-
Sindikat Suntik Gas Melon Pasuruan-Surabaya Digulung Polisi: 8 Orang Ditangkap