"Informasinya ada penurunan tanah, tapi sampai berapa warga tidak mengetahui, hanya patokannya setiap turun hujan dua desa ini langsung banjir," ucapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh warga warga RT 3 RW II Desa Kedungbanteng, Komari. Ia mengatakan, sejak akhir 2019 lalu dua desa di Kecamatan Tanggulangin yang awalnya ‘kering’ berubah menjadi langganan banjir. Namun banjir tidak segera surut begitu musim hujan berhenti.
Ia juga menyebut pada musim penghujan Desember 2019 silam, perkampungan di dua desa ini terendam banjir lebih dari enam bulan. Sampai saat ini pun, kampung mereka telah kebanjiran sejak Desember 2020 lalu.
"Sebenarnya pemerintah Sidoarjo telah membantu sirtu untuk menaikkan rumah-rumah warga yang terendam banjir. Nilainnya miliaran rupiah. Dengan harapan, setelah dinaikan, rumah mereka bebas banjir. Namun setelah rumah warga dinaikkan, banjir tetap saja masuk ke rumah warga. Banjir semakin tinggi," kata Komari.
Baca Juga:Lubang Penuhi Jalan Arteri Porong Sidoarjo, Sudah Banyak Makan Korban
Komari pun juga enggan apabila pemerintah memiliki wacana untuk relokasi. Ia menolak keputusan tersebut dan memilih tetap tinggal untuk mencari solusi lain menangani banjir di tempatnya.
"Meski begitu kami bersama dengan warga yang lain tetap merasa keberatan adanya relokasi. Yang jelas ada solusi lain selain relokasi," katanya.
Kontributor : Arry Saputra