facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kasus Pertama, Seorang Pasien Ditemukan Terinfeksi Dua Jenis Covid-19

Muhammad Taufiq Jum'at, 29 Januari 2021 | 15:13 WIB

Kasus Pertama, Seorang Pasien Ditemukan Terinfeksi Dua Jenis Covid-19
Seorang petugas medis memperlihatkan tatonya sebelum pasien penyakit virus corona (COVID-19) terakhir meninggalkan rumah rumah sakit darurat di Stadion Mane Garrincha, di Brasilia, Brazil (15/10/2020). ANTARA/REUTERS/Adriano Machado/aa.

Ini barangkali menjadi kasus pertama seorang pasien terinfeksi dua jenis Virus Corona secara bersamaan. Kasus ini terjadi di Brazil Selatan, Amerika Selatan.

SuaraJatim.id - Ini barangkali menjadi kasus pertama seorang pasien terinfeksi dua jenis Virus Corona secara bersamaan. Kasus ini terjadi di Brazil Selatan, Amerika Selatan.

Kasus tersebut ditemukan oleh sejumlah ilmuan setempat. Kondisi infeksi ganda itu menggambarkan kekhawatiran soal merebaknya jumlah varian COVID di negara tersebut.

Sejumlah ilmuan penemu kasus itu mengunggah hasil riset mereka di situs medis medRxiv pada Rabu (27/1). Mereka menyebut temuan mereka akan menjadi yang pertama di dunia.

Hasil penelitian itu belum diterbitkan di jurnal ilmiah dan belum ditinjau oleh rekan sejawat.

Baca Juga: IDI Minta Influencer Vaksin Jaga Omongan dan Perilaku Selama Pandemi

Dua pasien, yang sama-sama berusia 30-an, pada akhir November terinfeksi varian COVID-19 P.2 yang teridentifikasi di Rio, yang juga dikenal sebagai garis keturunan B.1.1.28. Kedua pasien secara bersamaan terbukti positif varian COVID-19 lainnya.

Mereka dilaporkan mengalami gejala ringan. Salah satu pasien menderita batuk kering dan satu lagi mengalami batuk, sakit tenggorokan serta sakit kepala. Mereka tidak perlu dirawat inap.

Kasus tersebut menggarisbawahi banyaknya varian yang telah beredar di Brazil, sekaligus meningkatkan kekhawatiran di kalangan ilmuwan bahwa kehadiran dua galur (COVID-19) di tubuh yang sama dapat mempercepat mutasi varian baru COVID-19.

"Multiinfeksi ini mampu menghasilkan kombinasi dan varian baru yang bahkan lebih cepat menular daripada yang terjadi saat ini," kata ketua riset Fernando Spilki, ahli virologi di Universitas Feevale di Negara Bagian Rio Grande do Sul.

"Ini akan menjadi jalur evolusi lain untuk virus," katanya, demikian dikutip dari Antara.

Baca Juga: Wagub DKI Bahas Hotel untuk Isolasi Mandiri Bareng Sandiaga, Ini Daftarnya

Varian baru menyebabkan risiko penularan yang lebih besar dan kemungkinan resistensi terhadap vaksin-vaksin yang saat ini sedang dikembangkan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait