facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Suku Tengger Mengukuhkan Gubernur Khofifah Sebagai Warga Kehormatan

Abdul Aziz Mahrizal Ramadan Jum'at, 17 Juni 2022 | 13:47 WIB

Suku Tengger Mengukuhkan Gubernur Khofifah Sebagai Warga Kehormatan
Gubernur Khofifah menerima selendang kuning dari perwakilan tokoh masyarakat Tengger, Rabu (15/6/2022) malam. [FOTO: Dok.Humas Pemprov Jatim]

Momentum itu terjadi di Pendapa Agung, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Rabu (15/6/2022) dalam rangkaian perayaan Yadnya Kasada.

SuaraJatim.id - Masyarakat Suku Tengger mengukuhkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai Warga Kehormatan. Momentum itu terjadi di Pendapa Agung, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Rabu (15/6/2022) dalam rangkaian perayaan Yadnya Kasada.

"Saya menyampaikan terima kasih, rasa bahagia dan bangga mendapat penghormatan dari warga Tengger. Sebelumnya saya juga mendapat penghormatan sebagai Mama Alor NTT, marga Boru Nasution, dan beberapa gelar lain. Bagi saya ini merupakan sebuah penghormatan yang luar biasa," kata Khofifah mengutip dari Timesindonesia.co.id, Jumat (17/6/2022).

Pengukuhan warga kehormatan ini, lanjut dia, bermakna sangat dalam. 

"Suku Tengger memiliki adat istiadat, kearifan dan keguyuban yang luar biasa. Penghargaan ini berarti kerja-kerja kami di pemerintahan Jawa Timur harus bisa menguatkan peran serta  mensejahterakan warga Tengger, dengan kekayaan budayanya," katanya. 

Baca Juga: Gubernur Khofifah Bangga Jatim Bisa Ekspor 50.000 Bola Resmi Piala Dunia 2022 Qatar

Pengukuhan sebagai Warga Suku Tengger ditandai dengan penyematan selendang kuning oleh Perwakilan Tokoh Masyarakat Tengger kepada Khofifah dan sejumlah tokoh lain. Di antaranya Kajati Jatim, Danrem 083 Bhaladika Jaya,  Dandim 0820 Probolinggo, Kapolres Probolinggo, Kapolres Kota Probolinggo Kota, Kajari Kab. Probolinggo dan Ketua PN Kraksaan.

Selendang berarti penanda pengukuhan dan ikatan kekeluargaan yang erat. Sedangkan warna kuning berarti keagungan. Dalam Bahasa Jawa Kuning berarti Ning atau Hening. Artinya pikiran masyarakat Tengger diharapkan hening. Sebab dalam kehehingan hati akan didapatkan ketenangan pikiran.

Khofifah mengatakan Malam Resepsi Yadnya Kasada adalah  bagian dari momentum kebangkitan pariwisata Jawa Timur.

"Ini sekaligus menjadi pengungkit  potensi wisata  di wilayah Bromo, Tengger, Semeru khususnya di wilayah Bromo saat  pandemi covid-19 di Jawa Timur telah memasuki level 1 di semua kabupaten/ kota," katanya.

Khofifah menjelaskan salah satu destinasi  wisata  baru yang kini tengah digarap di kawasan Bromo  adalah jembatan kaca Bromo Tengger Semeru yang diharapkan dapat meningkatkan daya tarik  pariwisata sekaligus ekonomi di wilayah tersebut.

Baca Juga: Larung Sesaji di Kawah Gunung Bromo, Puncak Perayaan Yadnya Kasada

Gubernur  Khofifah menyampaikan, awal mula ide desain jembatan kaca tersebut muncul dua tahun lalu oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Untuk pertama-tama dicoba di Malang.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait