- Sebanyak 66 warga Tulungagung mengalami keracunan massal setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis pada Senin 27 Juli 2026.
- Penyelenggara program diduga sengaja menutupi insiden keracunan tersebut sehingga terlambat dilaporkan kepada Satuan Tugas pengawas keamanan pangan.
- Badan Gizi Nasional resmi membekukan operasional dapur SPPG Pakisrejo dan sedang melakukan investigasi mendalam terkait insiden tersebut.
SuaraJatim.id - Sejumlah warga Desa Pakisrejo dan Banjarejo, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, mengalami keracunan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 66 warga dilaporkan mengalami gejala keracunan massal setelah menyantap menu yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo.
Di balik rintihan sakit para korban, muncul aroma tak sedapa mengenai dugaan upaya untuk membungkam kasus ini agar tidak terendus publik.
Senin (27/7/2026) siang, SPPG Pakisrejo membagikan paket makanan berisi nasi putih, daging masak kecap, buncis, tempe, jeruk, dan kerupuk. Namun, malam harinya satu per satu penerima manfaat mulai merasakan mual hebat, muntah, hingga diare akut.
Baca Juga:40 Saksi Diperiksa, Kejari Tulungagung Segera Ungkap Tersangka Korupsi Tanah Griyo Dalem Kanjengan?
"Gejala itu muncul bertahap, mulai dari Senin malam hingga puncaknya Selasa siang," ungkap Eko Sumaryono, Ketua Tim Pengawas Keamanan Pangan Program MBG Kecamatan Rejotangan, Jumat (31/7/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Data mencatat 47 korban berasal dari kalangan rentan, balita dan ibu di Posyandu B3, sementara 19 lainnya adalah siswa sekolah. Beberapa di antaranya bahkan harus dilarikan ke Puskesmas karena kondisi fisik yang melemah drastis.
Ironisnya, saat puluhan warga mulai bertumbangan, pihak SPPG Pakisrejo justru memilih untuk diam. Informasi mengenai keracunan massal ini tidak segera sampai ke telinga Satuan Tugas (Satgas) pengawas.
Pihak Satgas justru baru mengetahui kejadian tersebut dari laporan perangkat desa, bukan dari penyelenggara program. Keterlambatan laporan ini memicu kecurigaan adanya upaya menutupi fakta di lapangan.
"Sebagai satuan tugas, kami menilai kasus ini terkesan ditutup-tutupi. Seharusnya, kejadian darurat seperti ini langsung dilaporkan agar penanganan medis bisa dilakukan lebih cepat dan mencegah jatuhnya lebih banyak korban," tegas Eko.
Baca Juga:Tewas Usai Uji Nyali: Detik-Detik Tragis Perempuan Tulungagung Ambruk di Depan Rumah Hantu
Buntut dari insiden mematikan ini, langkah tegas akhirnya diambil. Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi membekukan operasional SPPG Pakisrejo sejak Kamis kemarin.
Kini, dapur yang seharusnya menyuplai energi bagi warga itu terkunci rapat dengan garis peringatan. Belum ada kepastian kapan layanan tersebut akan dibuka kembali.
Investigasi mendalam sedang dilakukan untuk mencari tahu di mana letak kesalahan, apakah pada kualitas bahan baku, prosedur memasak yang higienis, atau rantai distribusi yang bermasalah.