Rekor MURI Esther Irawati: Profesor AI Perempuan Termuda RI yang Perangi Hoaks Lewat Mata Digital

Prof. Esther Irawati Setiawan dari ISTTS dikukuhkan sebagai Guru Besar dan meraih rekor MURI sebagai profesor perempuan termuda bidang AI di Indonesia.

Wakos Reza Gautama
Jum'at, 21 Agustus 2026 | 15:04 WIB
Rekor MURI Esther Irawati: Profesor AI Perempuan Termuda RI yang Perangi Hoaks Lewat Mata Digital
Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan (paling kiri) dikukuhkan sebagai Guru Besar Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS). [ist]
Baca 10 detik
  • Prof. Esther Irawati Setiawan dari ISTTS dikukuhkan sebagai Guru Besar dan meraih rekor MURI sebagai profesor perempuan termuda bidang AI di Indonesia.
  • Ia mengembangkan AI Multimodal dan Agentic lewat alat VERIMODA untuk mendeteksi disinformasi serta SANDISAPA untuk menerjemahkan Bahasa Isyarat Indonesia.
  • Riset dengan akurasi 83,3 persen tersebut berfungsi sebagai alat bantu verifikasi fakta bagi manusia, bukan sebagai penentu kebenaran akhir.

SuaraJatim.id - Di dunia kecerdasan buatan (AI) yang kerap didominasi pria, muncul seorang srikandi dari Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) yang baru saja mencatatkan sejarah.

Bukan sekadar gelar, Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kecerdasan Artifisial, sekaligus menyabet rekor MURI sebagai profesor perempuan termuda di bidangnya di Indonesia.

Namun, yang lebih memikat dari sekadar gelar menterengnya adalah visi yang ia bawa yakni sebuah mata digital yang mampu mendeteksi kebohongan di dunia maya.

Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Kecerdasan Artifisial Multimodal dan Agentic untuk Information Resilience dan Aksesibilitas Digital Bangsa”, Prof. Esther membedah rahasia di balik hoaks yang kian canggih.

Baca Juga:Mobil Patroli Terbakar di Markas Polsek Tambaksari: Satu Terduga Pelaku Diciduk

Menurutnya, masalah utama informasi saat ini bukan terletak pada teks atau gambar secara terpisah, melainkan pada ketidaksinkronan di antara keduanya.

Ia memberi contoh sederhana namun fatal yakni sebuah foto banjir asli dikirim lewat pesan berantai dengan keterangan "Surabaya Hari Ini".

"Sistem yang hanya membaca teks akan menganggapnya normal. Sistem yang hanya melihat gambar akan menilainya asli. Padahal, foto itu mungkin kejadian di kota lain tahun lalu," jelasnya.

Di sinilah AI Multimodal berperan. Teknologi ini bekerja layaknya manusia, ia membaca berita sekaligus melihat fotonya untuk menimbang hubungan di antaranya.

Sementara itu, AI Agentic melangkah lebih jauh. Ia bukan sekadar asisten yang menjawab pertanyaan, melainkan agen yang mampu menyusun rencana, mengeksekusi tugas, hingga melakukan verifikasi mandiri.

Baca Juga:Ledakan Molotov Hantam Dua Pos Polisi Surabaya: Satu Polisi Terluka Pelaku Akhirnya Tertangkap

Prof. Esther tidak sekadar berteori. Ia memperkenalkan dua prototipe canggih hasil risetnya:

  • VERIMODA: Alat bantu penyaring awal bagi pemeriksa fakta untuk memverifikasi kebenaran informasi.
  • SANDISAPA: Aplikasi penerjemah BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) yang dirancang untuk membuka aksesibilitas bagi komunitas Tuli.

Meski akurasi risetnya mencapai 83,3 persen pada dataset Fakeddit, Prof. Esther tetap membumi. Ia menegaskan bahwa AI bukanlah hakim terakhir.

"Teknologi ini adalah alat bantu, bukan pengganti manusia. Ini adalah penanda bagi pemeriksa fakta untuk menindaklanjuti, bukan sebuah vonis mati bagi informasi," tegasnya.

Perjalanan akademik Prof. Esther adalah definisi dari kerja keras dan kecemerlangan. Sejak jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3) di ITS, ia selalu meraih predikat Summa Cum Laude dengan IPK sempurna, 4,00.

Hingga Agustus 2026, ia telah membidani 98 artikel ilmiah dengan ratusan sitasi global. Tak heran jika kini ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Departemen Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis Digital ISTTS serta menjadi reviewer di 15 jurnal internasional.

Bagi ISTTS, pengukuhan ini adalah amunisi baru untuk memperkuat riset dan posisi akademik di kancah nasional. Namun bagi Prof. Esther, rekor MURI dan jabatan Guru Besar adalah tanggung jawab moral yang lebih besar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini