- KH Yusuf Khudlori mengingatkan muktamirin agar memilih pemimpin berdasarkan kejernihan hati pada Jumat (28/8/2026).
- Pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 harus mengacu pada AD/ART tanpa pembatasan ruang kompetisi kader.
- Sebanyak 212 PCNU menyatakan dukungan agar Muktamar menjadi arena kompetisi sehat bagi kader terbaik NU.
SuaraJatim.id - Dinamika menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai menghangat.
Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Pendidikan Islam Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Khudlori atau Gus Yusuf, mengingatkan agar Muktamar tidak digerakkan oleh kepentingan kelompok maupun iming-iming tertentu.
Gus Yusuf menyerukan agar para muktamirin mengikuti seluruh agenda Muktamar dengan basyiroh, yakni kejernihan hati dan nurani, bukan bisyaroh atau iming-iming kepentingan.
Menurutnya, keputusan Muktamar dan pemilihan pemimpin NU seharusnya lahir dari hati yang jernih. Sebaliknya, jika proses Muktamar digerakkan oleh kepentingan tertentu, keputusan yang lahir dikhawatirkan hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Baca Juga:Seribu Halaman LPj Gus Yahya dan Taruhan Besar Abad Kedua NU
“Dengan basyiroh dan hati yang jernih, maka akan menghasilkan keputusan-keputusan muktamar dan pemimpin NU yang memperkuat NU. Tapi kalau digerakkan oleh bisyaroh maka keputusan yang dihasilkan hanya akan menguntungkan kelompok tertentu,” ujar Gus Yusuf saat bersilaturahmi dengan perwakilan peserta Muktamar dari lebih dari 200 PCNU, Jumat (28/8/2026).
Gus Yusuf juga menyinggung mekanisme pemilihan calon Ketua Umum PBNU. Ia menegaskan bahwa aturan main dalam Muktamar semestinya mengacu pada AD/ART dan Qanun Asasi NU.
Ia mengingatkan agar Peraturan Perkumpulan (Perkum) tidak digunakan untuk mempersempit ruang kompetisi calon Ketua Umum.
“Karena digerakkan oleh basyiroh, semangat muktamar adalah memberikan kesempatan terbuka kepada semua kader terbaik NU. Bukan untuk saling menjegal dalam kontestasi calon Ketua Umum PBNU,” tegasnya.
Menurut Gus Yusuf, Muktamar seharusnya menjadi ruang terbuka bagi seluruh kader terbaik NU untuk berkompetisi secara sehat.
Baca Juga:Soroti Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Kata Petinggi PKS
“Muktamar adalah ruang terbaik untuk semua kader,” katanya.
Ia menilai, apabila aturan main sudah diatur dalam AD/ART dan Qanun Asasi, maka tidak seharusnya mekanisme pemilihan justru dipersempit melalui aturan yang kedudukannya berada di bawah AD/ART.
“Berikan kesempatan seluas-luasnya kepada kader terbaik. Biarlah muktamirin yang akan memilihnya sesuai hati nurani,” ujar Gus Yusuf.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pengurus cabang NU. Ketua PCNU Muko-Muko, Kiai Fauzan, mengatakan mekanisme pemilihan maupun tata tertib Muktamar semestinya dikembalikan kepada AD/ART.
“Jangan menjadikan Perkum yang stratanya di bawah AD/ART,” katanya.
Menurut dia, penggunaan Perkum sebagai dasar penyusunan tata tertib berpotensi menjadi instrumen untuk membatasi calon tertentu yang dinilai memiliki peluang dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.