- Transformasi pascamerger Pelindo sejak 2021 meningkatkan produktivitas terminal di atas 70 persen dan mengurangi waktu singgah kapal.
- INSA menyatakan perbaikan layanan Pelindo telah dirasakan pengusaha pelayaran, namun standardisasi peralatan bongkar muat masih perlu ditingkatkan.
- Pengamat ITS menilai standardisasi terpusat telah diterapkan, tetapi konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya homogen secara nasional.
Carmelita mengatakan peningkatan kualitas layanan terminal penting bagi perusahaan pelayaran karena berkaitan langsung dengan produktivitas kapal. Layanan terminal tidak hanya menyangkut bongkar muat, tetapi juga efisiensi operasional dan waktu kapal berada di pelabuhan.
“Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik,” ujarnya.
Ia menilai kesiapan peralatan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas terminal dan mendukung kepastian jadwal pelayaran.
“Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” kata Carmelita.
Baca Juga:TP2DD Jatim Raih Penghargaan, Gubernur Khofifah Pastikan Digitalisasi Bermanfaat bagi Masyarakat
INSA juga mendorong keberlanjutan standardisasi layanan di berbagai terminal. Menurut Carmelita, pola layanan yang semakin seragam dibutuhkan perusahaan pelayaran agar operasional kapal dapat direncanakan dengan lebih baik.
“Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting. Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian operasional kapal,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan biaya akibat pelemahan rupiah membuat efisiensi semakin penting bagi industri pelayaran. Biaya perawatan dan operasional kapal, termasuk suku cadang yang masih harus diimpor, turut terdampak.
“Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar,” kata Carmelita.
“Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak,” ujarnya.
Baca Juga:Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang dan Investasi Jatim-Arab Saudi, Potensi Transaksi Rp6,71 T
Menurut Carmelita, efisiensi tidak cukup hanya dilakukan pengusaha. Pemerintah juga perlu menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif.
“Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif,” katanya.
Layanan yang Konsisten
Lima tahun setelah merger Pelindo, standardisasi layanan terminal petikemas dinilai menunjukkan perkembangan positif. Namun, penyamaan sistem dan proses bisnis belum sepenuhnya membuat kualitas layanan seluruh terminal Pelindo menjadi seragam.
Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, mengatakan merger Pelindo telah mendorong standardisasi pengelolaan terminal secara lebih terpusat. Hal itu terlihat dari penyelarasan proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System (TOS), hingga indikator kinerja terminal.
“Standardisasi layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat. Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah terstandarisasi secara terpusat,” kata Saut.