- Willy Prakarsa menyatakan Presiden Prabowo menunjuk mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Presiden pada Jumat, 2 Oktober 2026.
- Penunjukan tersebut dinilai sebagai strategi penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan dan menghadapi kompleksitas keamanan nasional.
- JARI'98 meminta pemerintah serius melakukan penataan serta fokus menciptakan lapangan kerja di tengah perombakan kabinet.
SuaraJatim.id - Pergantian pucuk pimpinan Polri di tengah perombakan kabinet Presiden Prabowo Subianto tengah menjadi pusat perhatian.
Namun Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 98 (JARI’98), Willy Prakarsa, memaknai dengan konteks berbeda, terutama perhatian terhadap mantan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo yang mendapat peran strategis di lingkar pemerintahan sebagai Kepala Staf Presiden (KSP).
Menurut Willy, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Prabowo dalam menjaga stabilitas pemerintahan di tengah tekanan ekonomi, persoalan lapangan kerja, serta dinamika politik nasional.
“Presiden Prabowo cukup cermat dan jeli dalam intelijen, jadikan Jend Pol Drs Listyo Sigit Prabowo, M.Si sebagai KSP,” ujar Willy dalam keterangannya kepada awak media, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga:Buka Muktamar ke-35 NU, Prabowo Subianto: Saya Tak Ikut Campur
Willy menilai Listyo Sigit memiliki pengalaman dan karakter yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas strategis di pemerintahan. Apalagi eks Kapolri tersebut merupakan sosok yang memiliki dedikasi, pekerja keras, humanis, rendah hati, dan berintegritas.
“Semua tokoh dan elemen gerakan pastinya menaruh hormat pada sosok eks Kapolri tersebut dan terbilang sukses, miliki dedikasi, pekerja keras, humanis, humble dan berintegritas,” katanya.
Willy bahkan mengibaratkan posisi Listyo Sigit dalam pemerintahan Prabowo seperti sebuah bidak benteng dalam permainan catur. Menurutnya, pengalaman Sigit dapat menjadi modal penting untuk menghadapi dinamika keamanan dan politik nasional.
“Sehingga ibarat permainan catur, eks Kapolri Sigit adalah benteng dari pemerintahan Prabowo yang dikenal pendiam dan cakap dalam bekerja,” ucap Willy.
Ia juga menyinggung dinamika intelijen dan keamanan nasional yang menurutnya semakin kompleks. Willy berpandangan, keberadaan figur berpengalaman seperti Listyo Sigit di pemerintahan dapat membantu menghadapi berbagai potensi gejolak.
Baca Juga:Tagih Utang ke Gus Yahya, Presiden Prabowo: Beri Saya Kartu NU, Saya Datang Lagi!
“Saya berkeyakinan tanpa eks Kapolri tersebut di dalam pemerintahan Prabowo maka saya bisa pastikan Indonesia akan mengalami pergolakan dan bergejolak, dampaknya bisa mengalami gangguan keamanan nasional,” kata Willy.
Di sisi lain, Willy mengakui bahwa perombakan kabinet bisa saja dibaca berbeda oleh lawan politik pemerintah. Ia menyebut ada pihak yang mungkin melihat bongkar pasang kabinet sebagai tanda persoalan dalam menjalankan pemerintahan.
Namun, sebagai pendukung Prabowo-Gibran, JARI’98 meminta pemerintah tidak berhenti pada pergantian figur. Willy menekankan pentingnya penataan pemerintahan yang dibarengi dengan langkah konkret menghadapi persoalan ekonomi dan lapangan pekerjaan.
“Sebagai pendukung Prabowo-Gibran, saya dkk JARI’98 minta agar Prabowo serius lakukan penataan untuk negeri ini, minimal ciptakan lapangan kerja,” tandas Willy.