Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Taufiq
Rabu, 23 Februari 2022 | 21:41 WIB
Ilustrasi Satelit (Pexels/SapceX)

Menurut perhitungan BAKTI, satelit cadangan perlu memiliki kapasitas sekitar 80Gbps. Sementara SATRIA-1 memiliki kapasitas transmisi 150Gbps.

Dari sisi konstruksi, pengerjaan satelit ini dimulai pada 3 September 2020 dan sesuai jadwal akan diluncurkan pada kuartal kedua 2023 dan dapat beroperasi secara komersial paling lambat pada 17 November tahun yang sama.

Satelit SATRIA-1 ditargetkan bisa menjangkau 150.000 titik layanan publik, terbanyak untuk sekolah dan pesantren (93.900 titik) untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan ujian berbasis komputer.

Satelit itu juga akan memberikan akses internet untuk puskesmas dan rumah sakit di 3.700 titik dan 3.900 titik layanan keamanan masyarakat di wilayah 3T.

Baca Juga: Kutuk Pelarangan Jilbab di India, Anggota DPR Desak Pemerintah Indonesia Bantu Hentikan Rasisme Umat Muslim

"Selain itu, satelit ini akan menjangkau 47.900 titik kantor desa, kelurahan, kecamatan dan kantor pemerintahan daerah lainnya serta 600 titik layanan publik lainnya," kata Menkominfo.

Dalam peninjauan, Johnny didampingi Staf Khusus Bidang Komunikasi Politik Philip Gobang, Bupati Kabupaten Kupang Korinus Masneno, Kepala Biro Umum Sensilaus Dore, dan Kepala Balmon Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Kupang Latuse.

Load More