Riki Chandra
Selasa, 06 Januari 2026 | 20:17 WIB
Puluhan hektare lahan pertanian warga Ponorogo terendam banjir. [Dok. BeritaJatim]
Baca 10 detik
  • Banjir awal tahun sebabkan puluhan hektare padi Ponorogo gagal panen.
  • Genangan air lama ancam perluasan puso di sejumlah kecamatan.
  • Asuransi dan bantuan benih jadi harapan petani terdampak banjir.

SuaraJatim.id - Puluhan hektare tanaman padi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dipastikan tidak bisa diselamatkan setelah terendam air terlalu lama akibat banjir yang menerjang wilayah tersebut di awal 2026.

Data sementara dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo mencatat sebanyak 28 hektare padi mengalami puso atau gagal panen akibat banjir Ponorogo yang melanda sejumlah wilayah.

Dampak banjir Ponorogo ini paling terasa di dua kecamatan, yakni Kecamatan Siman dan Kecamatan Jetis. Di Kecamatan Siman, kerusakan tanaman padi terjadi di Desa Madusari seluas 11 hektare serta Desa Josari sekitar 2,7 hektare.

Sementara itu, di Kecamatan Jetis, puso tercatat di Desa Winong dengan luasan mencapai 9,8 hektare. Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi petani, terutama karena sebagian tanaman masih berada pada usia produktif awal.

Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dispertahankan Ponorogo, Suwarni, mengatakan angka kerusakan tersebut masih berpotensi bertambah seiring belum surutnya genangan air di sejumlah wilayah.

Menurutnya, banjir Ponorogo yang merendam tanaman padi lebih dari lima hari hampir pasti menyebabkan tanaman mati.

“Kalau tanaman padi terendam banjir lebih dari lima hari, bisa dipastikan akan mati. Itu yang sekarang kami waspadai, karena masih ada laporan sawah yang tergenang,” kata Suwarni, dikutip dari BeritaJatim, Selasa (6/1/2026).

Berdasarkan pendataan sementara, area persawahan yang terdampak banjir pascahujan deras awal tahun ini tersebar di sedikitnya tujuh kecamatan, di antaranya Kecamatan Bungkal, Balong, Siman, Slahung, Jetis, dan Kauman.

Total luas lahan terdampak mencapai sekitar 538 hektare, dengan usia tanaman padi bervariasi antara 7 hingga 35 hari. Kondisi ini membuat risiko kerugian petani semakin besar apabila genangan air tak segera surut.

Di tengah ancaman gagal panen akibat banjir Ponorogo, masih ada sedikit harapan bagi sebagian petani. Di wilayah Madusari, Siman, serta Jetis, cukup banyak petani yang telah mendaftarkan tanaman padinya dalam program asuransi pertanian.

Program ini diharapkan dapat membantu menekan kerugian saat bencana alam datang tanpa bisa dihindari.

“Harapannya petani mau ikut asuransi. Jadi ketika terjadi bencana alam seperti banjir, beban kerugian tidak sepenuhnya ditanggung petani,” ujarnya.

Selain skema asuransi, Dispertahankan Ponorogo juga mengupayakan penyaluran bantuan cadangan benih bagi petani yang tanamannya mati akibat banjir. Bantuan tersebut diharapkan memungkinkan petani segera melakukan tanam ulang setelah kondisi lahan kembali normal.

Namun demikian, banjir Ponorogo bukan satu-satunya ancaman. Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya wereng, juga menjadi perhatian serius sehingga petani diminta rutin melakukan pengamatan dini di sawah.

“Semakin cepat diketahui, semakin mudah pengendaliannya. Jangan menunggu serangan meluas,” tegas Suwarni.

Load More