Riki Chandra
Jum'at, 13 Maret 2026 | 19:56 WIB
Pengusaha keripik tempe di Dusun Cupo, Desa Grudo, Ngawi, Agus Heri Suryanto (43). [Dok. Istimewa]
Baca 10 detik
  • Program MBG tingkatkan permintaan keripik tempe UMKM Kampung Tempe Ngawi.
  • Produksi keripik tempe meningkat, kebutuhan tempe bisa mencapai 90 kilogram.
  • Program MBG libatkan puluhan UMKM lokal untuk pasok dapur gizi.

SuaraJatim.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha kecil di daerah.

Di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (Jatim), program MBG ikut menggairahkan produksi keripik tempe di sentra UMKM yang dikenal sebagai Kampung Tempe.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampaknya adalah Agus Heri Suryanto (43), pengusaha keripik tempe di Dusun Cupo, Desa Grudo, Ngawi.

Menurutnya, sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), peluang usaha bagi UMKM lokal semakin terbuka karena produk mereka dilibatkan dalam penyediaan kebutuhan makanan program tersebut.

Agus menjelaskan, usaha keripik tempe yang ia jalankan merupakan usaha keluarga yang telah bertahan hampir 30 tahun.

Kini, dengan adanya dukungan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), permintaan keripik tempe dari berbagai daerah juga terus meningkat.

“Usaha ini meneruskan usaha orang tua, sudah kurang lebih 30 tahun. Sekarang permintaannya juga semakin banyak. Kadang pembeli datang langsung, kadang lewat Grab, bahkan kirim ke Malang, Surabaya, dan Jogja,” kata Agus, Kamis (13/3/2026).

Keterlibatan dalam program MBG juga membuka kesempatan bagi UMKM lain di Dusun Cupo. Melalui kerja sama dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), produk keripik tempe dari para pelaku usaha lokal ikut disuplai untuk kebutuhan program tersebut.

“Untuk sementara kita berterima kasih kepada SPPG MBG karena melibatkan UMKM, khususnya di Dusun Cupo. Utamanya keripik tempe. Mungkin ada sekitar 20 sampai 30 kita bagi semua, melibatkan UMKM setempat,” ujarnya.

Pada tahap awal pelaksanaan program MBG, kebutuhan keripik tempe untuk dapur MBG mencapai sekitar 1.000 porsi dalam satu kali pengambilan. Untuk memenuhi jumlah tersebut, dibutuhkan sekitar 26 hingga 27 kilogram keripik tempe.

Apabila produksi meningkat hingga 2.000 sampai 3.000 porsi, kebutuhan bahan baku diperkirakan juga akan meningkat secara signifikan. Agus menyebut kebutuhan tempe sebagai bahan utama bisa mencapai sekitar 90 kilogram.

Namun, menurut Agus, permintaan tersebut tidak hanya dipenuhi oleh satu pelaku usaha saja. Produksi akan dibagi kepada UMKM lain di desa tersebut agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara bersama.

"Dulu kita butuh tempe kurang lebih 10 sampai 15 lonjor, kurang lebihnya hampir 20-30 kg satu hari. Untuk kenaikannya hampir tambah. Per-seribu (porsi) kebutuhan tempe mencapai 26-30 kg, jadi dikalikan tiga," jelasnya.

Agus berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat terus berjalan karena dinilai memberikan dampak bagi keberlangsungan usaha kecil di desa serta membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM lokal.

“Harapan kami MBG bisa terus berjalan karena sangat membantu UMKM. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto karena UMKM desa ikut terangkat dan masyarakat juga merasakan manfaatnya,” pungkas Agus.

Load More