- Prof. Esther Irawati Setiawan dari ISTTS dikukuhkan sebagai Guru Besar dan meraih rekor MURI sebagai profesor perempuan termuda bidang AI di Indonesia.
- Ia mengembangkan AI Multimodal dan Agentic lewat alat VERIMODA untuk mendeteksi disinformasi serta SANDISAPA untuk menerjemahkan Bahasa Isyarat Indonesia.
- Riset dengan akurasi 83,3 persen tersebut berfungsi sebagai alat bantu verifikasi fakta bagi manusia, bukan sebagai penentu kebenaran akhir.
SuaraJatim.id - Di dunia kecerdasan buatan (AI) yang kerap didominasi pria, muncul seorang srikandi dari Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) yang baru saja mencatatkan sejarah.
Bukan sekadar gelar, Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kecerdasan Artifisial, sekaligus menyabet rekor MURI sebagai profesor perempuan termuda di bidangnya di Indonesia.
Namun, yang lebih memikat dari sekadar gelar menterengnya adalah visi yang ia bawa yakni sebuah mata digital yang mampu mendeteksi kebohongan di dunia maya.
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Kecerdasan Artifisial Multimodal dan Agentic untuk Information Resilience dan Aksesibilitas Digital Bangsa”, Prof. Esther membedah rahasia di balik hoaks yang kian canggih.
Menurutnya, masalah utama informasi saat ini bukan terletak pada teks atau gambar secara terpisah, melainkan pada ketidaksinkronan di antara keduanya.
Ia memberi contoh sederhana namun fatal yakni sebuah foto banjir asli dikirim lewat pesan berantai dengan keterangan "Surabaya Hari Ini".
"Sistem yang hanya membaca teks akan menganggapnya normal. Sistem yang hanya melihat gambar akan menilainya asli. Padahal, foto itu mungkin kejadian di kota lain tahun lalu," jelasnya.
Di sinilah AI Multimodal berperan. Teknologi ini bekerja layaknya manusia, ia membaca berita sekaligus melihat fotonya untuk menimbang hubungan di antaranya.
Sementara itu, AI Agentic melangkah lebih jauh. Ia bukan sekadar asisten yang menjawab pertanyaan, melainkan agen yang mampu menyusun rencana, mengeksekusi tugas, hingga melakukan verifikasi mandiri.
Baca Juga: Mobil Patroli Terbakar di Markas Polsek Tambaksari: Satu Terduga Pelaku Diciduk
Prof. Esther tidak sekadar berteori. Ia memperkenalkan dua prototipe canggih hasil risetnya:
- VERIMODA: Alat bantu penyaring awal bagi pemeriksa fakta untuk memverifikasi kebenaran informasi.
- SANDISAPA: Aplikasi penerjemah BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) yang dirancang untuk membuka aksesibilitas bagi komunitas Tuli.
Meski akurasi risetnya mencapai 83,3 persen pada dataset Fakeddit, Prof. Esther tetap membumi. Ia menegaskan bahwa AI bukanlah hakim terakhir.
"Teknologi ini adalah alat bantu, bukan pengganti manusia. Ini adalah penanda bagi pemeriksa fakta untuk menindaklanjuti, bukan sebuah vonis mati bagi informasi," tegasnya.
Perjalanan akademik Prof. Esther adalah definisi dari kerja keras dan kecemerlangan. Sejak jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3) di ITS, ia selalu meraih predikat Summa Cum Laude dengan IPK sempurna, 4,00.
Hingga Agustus 2026, ia telah membidani 98 artikel ilmiah dengan ratusan sitasi global. Tak heran jika kini ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Departemen Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis Digital ISTTS serta menjadi reviewer di 15 jurnal internasional.
Bagi ISTTS, pengukuhan ini adalah amunisi baru untuk memperkuat riset dan posisi akademik di kancah nasional. Namun bagi Prof. Esther, rekor MURI dan jabatan Guru Besar adalah tanggung jawab moral yang lebih besar.
Berita Terkait
-
Mobil Patroli Terbakar di Markas Polsek Tambaksari: Satu Terduga Pelaku Diciduk
-
Ledakan Molotov Hantam Dua Pos Polisi Surabaya: Satu Polisi Terluka Pelaku Akhirnya Tertangkap
-
Horor Digital di Kampus Surabaya: Saat AI Disalahgunakan untuk 'Menelanjangi' Harga Diri Mahasiswi
-
Prahara Chat Aborsi Viral: Karier Sang Duta Wisata Tio Ferdian Terjerembab
Terpopuler
- Jokowi Tak Lagi Optimis Prabowo-Gibran 2 Periode, Gerindra Respons Santai: Pilpres Masih Jauh
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- Jokowi Tampak Tak Lagi Optimistis Gibran Jadi Pasangan Prabowo di Pilpres 2029
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Gagal Manfaatkan Keunggulan Pemain, Persela Dipaksa Deltras FC Berbagi Poin di Surajaya
-
Pamit Tanpa Sepatah Kata, Bocah di Ponorogo Ditemukan Tenggelam di Saluran Irigasi
-
Polda Jatim Sita 4,7 Juta Butir Obat Keras, Kapolda Dekananto Jadikan Pemberantasan Prioritas
-
BOR Ruang Rawat Inap Jiwa RSUD Situbondo Capai 100 Persen pada AgustusSeptember 2026
-
Nilai Merek USD6,9 Miliar, BRI Kembali Pimpin Daftar Merek Terkuat di Indonesia