Ronald Seger Prabowo
Minggu, 11 Oktober 2026 | 14:59 WIB
Petugas Poli Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo, Jawa Timur, berkomunikasi dengan pasien. Minggu (11/10/2026) [ANTARA/Novi Husdinariyanto]
Baca 10 detik
  • RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo mengalami keterisian penuh ruang rawat inap jiwa sebesar 100 persen pada Agustus hingga September 2026.
  • Peningkatan signifikan jumlah pasien ODGJ tersebut dikonfirmasi oleh Dokter Spesialis Jiwa Dewi Prisca Sembiring pada Minggu, 11 Oktober 2026.
  • Rumah sakit menyediakan fasilitas berkapasitas 14 tempat tidur dan menerapkan berbagai program aktivitas harian terstruktur untuk pemulihan pasien.

SuaraJatim.id - Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di Ruang Anjasmoro, Unit Rawat Inap Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mencapai 100 persen selama periode Agustus hingga September 2026.

Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya jumlah pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang menjalani perawatan.

Dokter Spesialis Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo, Dewi Prisca Sembiring, mengatakan bahwa pada awal 2026 tingkat keterisian tempat tidur masih berada di kisaran 20 persen.

Namun, sejak Agustus hingga September, jumlah pasien rawat inap meningkat signifikan.

“Pada awal tahun 2026 tingkat keterisian masih di kisaran 20 persen. Akan tetapi, sejak Agustus hingga September, pasien rawat inap mengalami peningkatan cukup signifikan, rata-rata 30 pasien per bulan,” ujar Dewi di Situbondo, Minggu (11/10/2026).

Ia menjelaskan, ruang rawat inap jiwa tersebut memiliki kapasitas 14 tempat tidur. Sebanyak 12 tempat tidur diperuntukkan bagi pasien gangguan jiwa, sedangkan dua lainnya digunakan untuk pasien yang menjalani rehabilitasi narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (Napza).

Menurut Dewi, sebagian besar pasien gangguan jiwa dapat mengakses layanan pengobatan menggunakan BPJS Kesehatan. Sementara itu, terdapat ketentuan pembiayaan tersendiri bagi pasien rehabilitasi Napza.

“Hari ini ada sebanyak delapan orang pasien ODGJ menjalani rawat inap. Rata-rata pasien menjalani perawatan selama satu minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat keparahan gejala,” katanya.

Sementara itu, Kepala Ruang Poli Jiwa RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo, Indah Kurniasari, mengatakan bahwa perawatan pasien tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga mencakup aktivitas harian untuk mendukung proses pemulihan.

Baca Juga: Evakuasi ODGJ yang Dipasung di Nganjuk, Pj Gubernur Adhy: Target Kita Jatim Bebas Pasung

Kegiatan tersebut antara lain olahraga bersama pada pagi hari, salat berjamaah, serta berbagai aktivitas harian lainnya yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Indah menambahkan, pasien yang baru masuk dan kondisinya belum stabil akan ditempatkan di ruang khusus untuk menjalani penanganan lebih lanjut sebelum dapat beraktivitas bersama pasien lainnya.

“Kalau pasien baru masuk dan masih belum stabil, kami tempatkan di ruang khusus atau diisolasi, dan belum bisa dikumpulkan dengan pasien lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo bekerja sama dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan puskesmas setempat melakukan pembebasan pasung terhadap warga yang mengalami gangguan kejiwaan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan beberapa hari sebelum pemberitaan ini, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026.

[ANTARA]

Load More