Wakos Reza Gautama
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:45 WIB
Pemakaman Sefril Ardiansyah, korban karhutla Bromo di Probolinggo. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Sefril Ardiansyah tewas akibat terjebak kebakaran hutan di lereng Gunung Bromo pada Kamis, 15 Oktober 2026.
  • Atlet panjat tebing berprestasi asal Probolinggo itu sempat mengirimkan video perpisahan kepada ibunya sebelum meninggal dunia.
  • Jenazah korban tiba di rumah duka di Jrebeng Kulon dalam bentuk peti mati pada Jumat, 16 Oktober 2026.

SuaraJatim.id - Bagi keluarga Lutfy Zulkifli, Jumat selalu punya arti istimewa. Hari itu adalah waktu di mana pintu rumah mereka di Perumahan Yunayuni, Jrebeng Kulon, biasanya diketuk oleh anak kedua mereka, Sefril Ardiansyah (19).

Namun, pada Jumat (16/10/2026), pintu itu tak lagi berbunyi. Yang tiba di halaman rumah bukan langkah kaki tegap sang atlet muda, melainkan peti jenazah yang terbujur kaku.

Sefril menjadi salah satu dari empat korban jiwa yang tewas terpanggang saat berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Bromo, Kamis (15/10/2026).

Kepedihan keluarga kian menyayat hati lantaran pemuda 19 tahun itu sempat mengirimkan tanda perpisahan. Melalui sepenggal rekaman video yang dikirim ke ponsel ibunya beberapa jam sebelum tragedi, Sefril mengabarkan bahwa ia tengah berada di garis depan pemadaman.

Dalam pesan singkat yang menyertainya, terselip sebuah kalimat yang kini menjelma firasat pahit. Dia pamit tidak bisa pulang hari Jumat ini.

"Di video itu dia bilang lagi mantau kebakaran. Dia pamit nggak bisa pulang minggu ini. Padahal setiap Jumat dia pasti pulang ke rumah," tutur sang ayah, Lutfy Zulkifli, dengan suara tercekat menahan air mata yang tumpah, Jumat (16/10/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Keluarga mengira Sefril hanya terhalang shift kerja di hotel tempatnya bekerja di Bromo. Mereka tak pernah menyangka, ucapan pamit itu bermakna harfiah bahwa Sefril benar-benar tak akan pernah pulang lagi untuk selamanya.

Kepergian Sefril bukan hanya pukulan telak bagi keluarga, melainkan duka mendalam bagi dunia olahraga Jawa Timur. Di usianya yang masih belia, ia adalah atlet panjat tebing berprestasi yang telah mengharumkan nama Kota Probolinggo lewat torehan medali perak Porprov Jatim pada edisi 2023 dan 2025.

Bakat dan kecerdasannya bahkan sempat membukakan pintu perguruan tinggi tanpa tes melalui jalur bergengsi golden ticket di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Baca Juga: Terjebak Badai Api Bromo: 4 Petugas dan Relawan Gugur Terpanggang di Lereng Pusung Lingker

Namun, dengan jiwa mandiri, Sefril memilih menundanya dan bekerja di industri perhotelan kawasan Bromo, tempat di mana nuraninya sebagai relawan bencana justru mengantarkannya pada takdir terakhir.

Di mata rekan-rekannya di Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Probolinggo, Sefril adalah sosok langka. Tak hanya lincah merayap di dinding tebing, ia dikenal berakhlak teduh.

"Almarhum itu anak yang luar biasa santun. Di tempat latihan, dia sering diminta menjadi imam salat berjamaah karena bacaan Alquran-nya sangat merdu dan fasih. Anak-anak junior sangat mengidolakannya, dia sudah seperti kakak kandung bagi mereka," kenang pelatih FPTI Probolinggo, Iwan Rosyidi, dengan nada gamang.

Load More