Mushaf Al Quran Tua dari Abad ke-15 Ditemukan di Situbondo, Ditulis Tangan

Pebriansyah Ariefana
Mushaf Al Quran Tua dari Abad ke-15 Ditemukan di Situbondo, Ditulis Tangan
Sebuah Mushaf Al Quran tua ditemukan di Situbondo, Jawa Timur (Jatimnet)

Seorang pemerhati sejarah asal Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Abdul Halek menyimpan Al Quran kuno tulisan tangan itu.

SuaraJatim.id - Sebuah Mushaf Al Quran tua ditemukan di Situbondo, Jawa Timur. Al Quran itu diprediksi ditulis sekitar abad 15.

Mushaf Al Quran tua itu ditulis dengan menggunakan tangan. Seorang pemerhati sejarah asal Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Abdul Halek menyimpan Al Quran kuno tulisan tangan itu. Selain ditulis dengan tulisan tangan, media menulisnya masih menggunakan lembaran dari kulit pohon.

Halek mendapatkan Alquran tersebut dari salah seorang petani di Kecamatan Panji, Situbondo.

“Saya beli dari seorang petani. Karena kurang terawat, ada sekitar 10 persen bagian mushaf Quran sudah rusak,” ujar Halek, Minggu (10/5/2020).

Media menulisnya diperkirakan menggunakan daluang atau deluwang atau lembaran tipis yang dibuat dari kulit pohon daluang (broussonetia papyrifera) atau mulberry.

Sebuah Mushaf Al Quran tua ditemukan di Situbondo, Jawa Timur (Jatimnet)
Sebuah Mushaf Al Quran tua ditemukan di Situbondo, Jawa Timur (Jatimnet)

Deluwang juga sering disebut sebagai paper (kertas) mulberry. Kulit pohon ini sering dipakai untuk keperluan menulis dan bahkan dipakai untuk bahan pembuatan pakaian sebelum industri tekstil muncul.

Sayangnya, tidak ada petunjuk siapa penulisnya dan kapan Al Quran ini ditulis. Sampulnya juga sudah rusak. Ia berencana menyerahkan Al Quran tersebut ke perpustakaan di desanya agar dijadikan literasi bagi masyarakat yang mau mendalami tentang sejarah.

“Saya banyak sekali koleksi buku-buku kono. Semuanya akan saya serahkan ke perpustakaan agar dijadikan bahan literasi,” katanya.

Halek mengaku suka mengoleksi benda-benda bersejarah. Selain berupa buku dan kitab-kitab, ia juga mengoleksi benda-benda kuono termasuk yang masih berhubungan dengan sejarah Kabupaten Situbondo. Menurutnya, mengoleksi benda bersejarah sebagai bentuk melestarikan peradaban peninggalan leluhur.

“Bila benda bersejarah ini tidak ada yang peduli, kita akan kesulitan mengenal sejarah masa lalu kita sendiri,” ujarnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS