alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Saat Mancing, Warga Temukan 3 Sumur Era Kerajaan Majapahit

Reza Gunadha Selasa, 23 Juni 2020 | 17:04 WIB

Saat Mancing, Warga Temukan 3 Sumur Era Kerajaan Majapahit
Warga Dusun Besuk, Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri dibuat geger oleh penemuan sejumlah sumur kuno peninggalan kerajaan Majapahit, yang berada di tepian sungai desa setempat. [Beritajatim]

Pada kedalaman 170 centimer kami menemukan potongan tulang betulang dan gerabah dalam bentuk serpihan, kata Eko Budi.

SuaraJatim.id - Warga Dusun Besuk, Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri dibuat geger oleh penemuan sejumlah sumur kuno peninggalan kerajaan Majapahit, yang berada di tepian sungai desa setempat.

Sumur dari bahan tembikar itu ditemukan saat warga tengah memancing ikan.

Menurut Eko Budi, warga yang menemukan, awalnya merasa penasaran karena adanya sumber mata air. Kemudian dia bersama warga melakukan penggalian.

“Pada kedalaman 170 centimer kami menemukan potongan tulang betulang dan gerabah dalam bentuk serpihan,” kata Eko Budi kepada Beritajatim.com, Selasa (23/6/2020).

Baca Juga: Kultwit Sejarah Kocak, Majapahit Kalahkan Kubilai Khan Pakai Prank

Atas temuan tersebut, Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Kediri melakukan peninjauan. Petugas mengukur sumur kuno itu.

Eko Priatno, Kasi Museum Dan Purbakala mengatakan, sumur tersebut diperkirakan sudah ada pada era Majapahit di abad ke 12 hingga 15. Benda tersebut merupakan tempat penyimpanan air atau disebut Jombong Sumur.

Sumur berdiamter 70 sentimeter yang dibuat dari tembikar atau tanah liat yang dibakar itu, untuk mengantisipasi jika air sungai mengering pada musim kemarau.

Temuan sumur-sumur tersebut membuktikan adanya permukiman di jaman kuno di desa tersebut.

Lokasinya pun sangat berdekatan dengan situs situs di Kabupaten Kediri lainnya. Seperti Situs Sebanen, Totok Kerot dan Semen.

Baca Juga: Batuan Diduga Sisa Peninggalan Majapahit Kembali Ditemukan di Situs Kumitir

Sesuai Undang Undang Cagar Budaya Nomor 11 tahun 2010, Eko berharap masyarakat tidak merusak atau mengambil sumur tersebut.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait