Dituding Politik Dinasti, Anak Pramono Anung: Itu Takdir Saya

Bimo Aria Fundrika
Dituding Politik Dinasti, Anak Pramono Anung: Itu Takdir Saya
Hanindhito Himawan Pramono. (Suara.com/Usman Hadi)

Menurut Dhito, sapaan Hanindhito, politik dinasti merupakan takdirnya yang terlahir sebagai seorang pejabat publik.

SuaraJatim.id - Anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Hanindhito Himawan Pramono, yang maju sebagai bakal calon bupati di Pilkada Kabupaten Kediri 2020 menjawab soal tudingan politik dinasti yang mengarah padanya.

Menurut Dhito, sapaan Hanindhito, politik dinasti merupakan takdirnya yang terlahir sebagai seorang pejabat publik. Ia pun tak terlalu menghiraukan suara sumbang mengenai dinasti politik yang diarahkan padanya.

"Dinasti politik itu adalah hal, sebuah hal yang menjadi takdir saya," ujar Dhito saat ditemui SuaraJatim.id usai rakercabsus di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri, Sabtu (1/8/2020).

Hanindhito Himawan Pramono, putra Seskab Pramono Anung, resmi maju dalam Pilbup Kediri. [Suara.com/Usman Hadi]
Hanindhito Himawan Pramono, putra Seskab Pramono Anung, resmi maju dalam Pilbup Kediri. [Suara.com/Usman Hadi]

Menurut Dhito, menjadi seorang anak pejabat publik serba dilematis. Jika dirinya berbuat salah, maka masyarakat akan ramai-ramai mencibirnya. Demikian pula bila berniat berbuat baik, pasti ada yang curiga.

"Kalau saya berbuat baik dan melakukan hal yang benar, orang juga akan hanya mengatakan 'ya jelas saja kamu melakukan itu, karena kamu adalah anaknya seorang Pramono Anung'," ungkap Dhito.

Untuk itu, Dhito tak lagi menghiraukan suara-suara sumbang yang mencibir pencalonannya di Pilkada Kabupaten Kediri. Dhito mengaku hanya ingin membangun daerah asal ayahnya itu.

"Jadi saya tidak terlalu menghiraukan itu (tudingan politik dinasti). Saya lebih fokus turun ke bawah menyerap aspirasi dan berdiskusi bersama masyarakat," kata anak sulung Pramono Anung tersebut.

Pengamat politik Universitas Brawijaya, Tri Hendra Wahyudi menjelaskan dinasti politik bisa bisa dilihat dari dua sudut. Pertama dinasti politik yang ditopang kapabilitas, kedua dinasti politik berdasarkan trah.

Jika dinasti politik itu ditopang kapabilitas, lanjut Hendra, maka tak masalah apabila yang bersangkutan maju di Pilkada. Namun bila dinasti politik itu hanya berdasarkan trah, hal itu yang menjadi masalah.

"Nah, di Indonesia celakanya dinasti politik itu biasanya tidak didukung oleh kapasitas politik yang memadai, sehingga itu menjadi citra yang buruk," tutur Hendra.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS