Pak Jokowi Tolong, Perajin Songkok di Lamongan Kesulitan Bayar Sekolah Anak

"Sebenarnya kalau masih bekerja sebagai buruh pembuat songkok sangat terbantu. Minimal membantu pendapatan suami untuk biaya kebutuhan setiap hari," katanya.

Chandra Iswinarno
Selasa, 25 Agustus 2020 | 16:15 WIB
Pak Jokowi Tolong, Perajin Songkok di Lamongan Kesulitan Bayar Sekolah Anak
Pemilik usaha rumahan songkok di Lamongan Saiful Bakri. [Suara.com/Amin Alamsyah]

SuaraJatim.id - Dampak pandemi Covid-19 begitu terasa hingga ke semua sektor perekonomian yang ada di tingkatan masyarakat kecil. Pun termasuk perajin songkok di Kabupaten Lamongan.

Memasuki bulan ke tujuh masa pandemi Covid-19, perajin songkok di wilayah tersebut terancam gulung tikar.

Seperti yang dialami Saiful Bakri, pemilik usaha rumahan pemroduksi songkok di Desa Getung, Kecamatan Turi, Lamongan. Saat ditemui di rumah produksinya, pria berusia 34 tahun itu kini hanya menganggur.

Suara mesin jahit yang kerap terdengar ramai bersahutan untuk alat membuat songkok, kini tak lagi disentuh.

Baca Juga:Cerita Pilu Bayi di Lamongan Dibuang di Jalan, Lalu Tewas Terlindas Truk

Kondisi ini berimbas pada para pekerja di usaha rumahannya itu yang juga terpaksa diliburkan karena Bakri sudah tak kuat lagi membiayainya.

Ditambah, pesanan juga mulai berkurang membuat dirinya kesulitan memasarkan produk.

"Kalau Februari sebenarnya masih produksi cuman tidak banyak. Puncaknya pas bulan puasa, kami tidak lagi produksi songkok," kata Bakri ditemui di rumah produksinya, Selasa (25/8/2020).

Sebenarnya, Bakri berusaha mencari peruntungan lain dengan memproduksi masker sendiri. Namun ternyata, masker produknya tidak selaku songkok yang dijual. Hingga akhirnya, bapak satu anak ini menyerah, bahkan nyaris tidak bekerja sama sekali.

Sebagai perbandingan sebelum pandemi melanda, Bakri mampu menghasilkan Rp 14 juta hingga Rp 15 juta tiap dua minggu sekali. Namun uang itu diperoleh setelah mengirimkan produk songkok ke perusahaan besar.

Baca Juga:Kak Seto: Pandemi Covid-19 Memberi Pelajaran Hidup yang Berharga pada Anak

Kini sejak pandemi, ia tidak lagi memasok songkok ke perusahaan tersebut. Lantaran, perusahaan yang semula menjadi pemasukan menjanjikan kini tidak bisa lagi diandalkan.

Pandemi Mengubah Segalanya

"Tanggungan hutang juga masih banyak. Saya ndak tau caranya melunasi utang-utang di bank itu," kata Bakri kepada SuaraJatim.id.

Bakri mengaku masih mempunyai utang sebesar Rp 80 juta di bank. Setiap bulan, ia harus mengangsur Rp 4,5 juta. Uang pinjaman itu pada awalnya digunakan untuk modal usaha. Tapi dia belum beruntung, sebelum utang lunas pandemi lebih dulu mengehentikan usahanya.

Kendati demikian, nasib Bakri masih lebih baik dibanding puluhan pekerjanya. Banyak di antara mereka menganggur.

Sejak pandemi melanda hidup mereka kalang kabut. Beberapa di antaranya kesulitan mencari kebutuhan setiap hari hingga membayar biaya anak sekolah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini