alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Anggota KPK Abal-Abal Perdayai Warga dan Karyawan BUMN Puluhan Juta Rupiah

Muhammad Taufiq Senin, 19 Oktober 2020 | 16:46 WIB

Anggota KPK Abal-Abal Perdayai Warga dan Karyawan BUMN Puluhan Juta Rupiah
Tesangka Vicky Andreanto saat berada di kantor polisi (Foto: Beritajatim)

Dengan gaya berkedok layaknya aparat penegak hukum, tersangka Vicky Andreanto melakukan penipuan terhadap dua korban.

SuaraJatim.id - Nekat benar Vicky Andreanto ini. Ia mengaku sebagai anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) abal-abal lalu memperdayai warga dan karyawan BUMN hingga puluhan juta rupiah.

Selain mengaku sebagai KPK abal-abal, pria 43 tahun warga asal Selat Barat, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu juga mengaku sebagai anggota penyidik Tipikor Polda Jatim.

Dengan gaya berkedok layaknya aparat penegak hukum, tersangka Vicky Andreanto melakukan penipuan terhadap dua korban. Mereka adalah Khoirul Anam (47) warga Desa Kandangan Cerme, Gresik yang berprofesi sebagai guru madrasah.

Korban berikutnya adalah Herdy Bramanta (31) karyawan BUMN yang tinggal di Semolowaru Waru Indah BLK R/25 Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo, Surabaya.

Kapolres Gresik ABP Arief Fitrianto menuturkan, tersangka memiliki nama lain Mohammad Eliyas dan sudah beraksi sebanyak dua kali di Kecamatan Cerme dengan modus operandi yang sama.

Saat melakukan aksi penipuan. Pada bulan September 2020 lalu, tersangka mengaku sebagi Mohammad Eliyas mendatangi Khoirul Anam. Di hadapan tersangka menerangkan bahwa kedatangannya adalah sebagai Penyidik Tipikor Polda Jatim dan Anggota KPK.

"Saat itu tersangka mengaku mendapat perintah dari pemerintah pusat untuk memberikan program bantuan di sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) berupa Dana Hibah Nasional dengan total anggaran Rp 350 juta," ujarnya, seperti dikutip dari beritajatim.com, jejaring suara.com, Senin (19/10/2020).

Masih menurut Arief, ada beberapa syarat sekolah tempat korban mengajar bersedia dibantu. Salah satunya harus mengeluarkan uang sejumlah Rp. 5.750.000. Dalih tersangka, uang itu akan digunakan untuk pengurusan pajak dan pencairan dana hibah.

Belum deal, Selasa (6/10) sekitar jam 16.00 sore Eliyas kembali mendatangi Khoirul yang saat itu berada di Desa Betiting, Kecamatan Cerme. Kedatangannya untuk meyakinkan korban agar mau mengeluarkan uang untuk pencairah dana hibah abal-abal itu.

"Tersangka membawa sebuah koper yang berisikan uang. Dan menerangkan yang tersebut milik sekolah lain yang sudah melakukan pembayaran," katanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait