facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kisah Kiai As'ad Menginsafkan Para Bandit Agar Ikut Perang 10 November 1945

Muhammad Taufiq Selasa, 10 November 2020 | 11:50 WIB

Kisah Kiai As'ad Menginsafkan Para Bandit Agar Ikut Perang 10 November 1945
K.H.R. As'ad Syamsul Arifin (Wikipedia)

"Rasa-rasanya, inilah pilihan yang paling pas. Bukankah mereka (bajingan) memiliki modal keberanian?"

SuaraJatim.id - Pertemupuran 10 November 1945 di Kota Surabaya yang kemudian hari diperingati sebagai Hari Pahlawan, bukan cuma melibatkan arek-arek Suroboyo semata. Ada peran pemuda, laskar, dan masyarakat dari daerah lain di Indonesia.

Kemudian untuk para pejuang juga bukan hanya melibatkan tentara rakyat, ada juga laskar-laskar, santri, masyarakat biasa, sampai para bandit atau penjahat yang disadarkan secara spiritual. Mereka terketuk mengikuti jalan jihad atau jalan suci meraih kemuliaan di sisi Allah membela agama, bangsa dan negara.

Para bandit insyaf itu digerakkan oleh seorang tokoh ulama terkemuka kala itu, yaitu Kiai Haji Raden (KHR) As'ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Samsul A Hasan, penulis buku-buku sejarah tentang tokoh NU, menceritakan bagaimana Kiai As'ad terlibat dalam pertemuan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya pada 22 Oktober 1945 yang juga dihadiri Rais Akbar NU Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari yang kemudian menghasilkan "Resolusi Jihad".

Baca Juga: SM Amin Diberi Gelar Pahlawan, Begini Kata Gubri

Dikutip dari Antara, Resolusi Jihad itu kemudian dikenal sebagai motor spiritual penggerak semangat santri, warga Surabaya dan sekitarnya untuk berjihad melawan penjajah. 

Dikisahkan bahwa setelah pertemuan di PBNU itu, Kiai As'ad kemudian bergerak ke Madura, diawali dari Bangkalan ke Sampang dan Pamekasan hingga ke Sumenep. Di empat kabupaten itu, Kiai As'ad menemui para ulama dan menyampaikan bahwa Rais Akbar NU menyerukan jihad untuk melawan penjajah.

Untuk itu Kiai As'ad meminta ulama di Madura mengumpulkan warga untuk dilatih fisik dan rohani agar memiliki kemampuan berperang. Pada saat mengumpulkan massa itu, memang dilematis bagi Kiai As'ad. Kalau memilih kiai atau ulama untuk berperang, siapa yang akan mengurusi pendidikan agama, khususnya di pesantren?

Kalau santri, siapa yang akan meneruskan dakwah Islam di masyarakat nantinya, jika banyak santri yang gugur. Kalau wali santri, siapa yang akan membiayai santri dalam menuntut ilmu agama? Maka jawaban-nya tertuju pada para bandit tersebut.

"Rasa-rasanya, inilah pilihan yang paling pas. Bukankah mereka (bajingan) memiliki modal keberanian? Lagi pula kalau mereka nantinya mati, berarti mengurangi jumlah orang jahat. Syukur-syukur kalau mereka nantinya insyaf," demikian tulis Samsul A Hasan dalam buku "Kisah Tiga Kiai Mengelola Bekas Bajingan; Sang Pelopor".

Baca Juga: Hari Pahlawan Nasional: Berikut Daftar Kata Mutiara Para Pahlawan Tanah Air

Karena itu, kemudian para ulama di Madura yang telah didatangi Kiai As'ad menghubungi para bandit ini. Setelah kembali ke pesantren-nya di Sukorejo, Kiai As'ad kemudian menghubungi beberapa anggota Pelopor (Palopor), pasukan inti gerilya yang dibina oleh Kiai As'ad.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait