Ini Kaitan Antara Obesitas dan Risiko Kematian Covid-19

Pasien Covid-19 obesitas, angka kematiannya lebih tinggi 48 persen dibandingkan pasien Covid-19 non obesitas.

Vania Rossa | Aflaha Rizal Bahtiar
Senin, 08 Maret 2021 | 10:51 WIB
Ini Kaitan Antara Obesitas dan Risiko Kematian Covid-19
Obesitas tingkatkan risiko Covid-19. (shutterstock)

SuaraJatim.id - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. dr. Zubairi Djurban, Sp.PD menyebutkan adanya hubungan antara obesitas dan risiko kematian akibat Covid-19. Dalam cuitan Twitter @ProfesorZubairi, ia menyebut bahwa orang dengan obesitas 74 persen lebih berisiko memerlukan penanganan ICU. Dan angka kematian juga lebih tinggi 48 persen dibandingkan pasien Covid-19 non obesitas.

“Sederhananya, seseorang dikatakan obesitas itu jika IMT (Indeks Massa Tubuh) nya sama dengan atau di atas 30,” cuitnya di Twitter, Minggu (7/3/21).

Menurutnya, tidak sedikit juga orang yang IMT-nya mencapai 40. Artinya, kondisi orang tersebut lebih serius lagi, dan kondisi ini tidak boleh diremehkan.

Kondisi berat badan berlebih atau obesitas ini dapat menyebabkan kekebalan tubuh terganggu, sistem imun tidak ideal, hiperkoagulasi (sindrom kekentalan darah), dan peradangan kronik.

Baca Juga:Orang Bisa Terinfeksi 2 Varian Baru Virus Corona Sekaligus, Apa Efeknya?

“Itu semua yang menyebabkan kondisi orang dengan obesitas lebih berat, dan lebih mudah meninggal jika terinfeksi COVID-19,” paparnya.

Ia menjelaskan kembali, biasanya pada orang yang obesitas memang lebih mudah terkena macam-macam penyakit, seperti jantung, paru-paru, diabetes, sindrom metabolik, darah tinggi, dan lainnya

“Sehingga, mereka akan semakin gawat jika terinfeksi virus corona,” jelasnya.

Bukti obesitas dengan imunitas yang terganggu, menurut penelitian pada tikus, membuktikan bahwa tikus yang obesitas didapati kehilangan fungsi limfosit T dan kemampuannya melawan penyakit. Sehingga kondisinya jauh lebih buruk dibanding tikus yang tidak obesitas.

Sementara, bukti pada manusia dilihat dari pelaksanaan vaksinasi influenza di Amerika.

Baca Juga:Bisa Menyebabkan Obesitas, Apa Alasan Keinginan Ngemil Saat Larut Malam?

“Apa hubungannya? Ya, orang dengan obesitas dan sudah divaksinasi itu didapati masih mungkin mendapati influenza dua kali lebih sering ketimbang yang non obes, itu faktanya,” jelasnya.

Tidak hanya itu, beban mental juga dirasakan oleh orang yang obesitas. “Mereka merasa mendapat stigma dari masyarakat sehingga jarang kontrol ke dokter. Karena nasihatnya akan selalu sama, turunkan berat badanmu,” ungkapnya.

Jika ingin ke dokter, ada baiknya orang dengan obesitas ditemani sahabat atau anggota keluarga. Sehingga komunikasinya nyaman dengan dokter. “Kalau sudah nyaman, program penurunan berat badan yang diberikan juga bisa terlaksana dengan baik. Pasti bisa,” tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak