Jumlah Kepala Daerah 'Maling' Uang Rakyat di Jatim Tertinggi Se-Indonesia

Kasus suap Bupati Probolinggo menambah panjang deretan kepala daerah di Jawa Timur yang terjerat kasus korupsi.

Muhammad Taufiq
Selasa, 31 Agustus 2021 | 17:30 WIB
Jumlah Kepala Daerah 'Maling' Uang Rakyat di Jatim Tertinggi Se-Indonesia
Ilustrasi KPK [suara.com/Agung Sandy Lesmana]

SuaraJatim.id - Kasus suap Bupati Probolinggo menambah panjang deretan kepala daerah di Jawa Timur yang terjerat kasus korupsi. Bahkan, jumlah kepala daerah korupsi di Jatim disebut-sebut tertinggi se-Indonesia.

Hal ini berdasar data Malang Corruption Watch (MCW). Seperti diungkap Koordinator MCW Atha Nursasi, sepanjang 2017-2020 sudah ada 14 kepala daerah yang terjerat kasus korupsi. Dengan bertambahnya kasus bupati Probolinggo, jumlahnya menjadi 15 kasus.

"Dan itu menempatkan Jatim di puncak teratas dengan tingkat korupsi kepala terbanyak," kata Atha, seperti dikutip dari TIMESIndonesia, jejaring media suara.com, Selasa (31/8/2021).

Atha melihat jual beli jabatan di pemerintahan adalah modus lama yang masih terjadi. "Ini berarti mekanisme seleksi dan prinsip tranportasi dan akuntabilitas tidak berjalan di pemerintahan," ungkapnya.

Baca Juga:Nasdem Masih Mau Dampingi Hukum Bupati Probolinggo dan Suami Asal Minta Lewat "Bahu"

MCW melihat jika setiap kasus dugaan suap berkaitan dengan pemilihan kepala desa tak bisa lepas dari posisi kekuasaan bupati selaku pimpinan di daerah. Jabatan kepala desa mungkin dipandang tak seberapa bagi kalangan elit.

Namun, posisi kepala desa memiliki peran penting dalam roda pemerintahan. Gegara bernafsu mendapatkan jabatan tersebut, para calon kepala desa di Kabupaten Probolinggo rela merogoh kantong memuluskan niat mereka.

Pada akhirnya Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari bersama suaminya yang anggota DPR RI Hasan Aminuddin harus berurusan dengan KPK RI lewat operasi tangkap tangan pada Senin (30/8/2021) kemarin. Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka kasus jual beli jabatan kades.

Pemilihan kades serentak tahap II di Probolinggo itu sejatinya akan diagendakan pada 27 Desember mendatang. Tetapi, pemilihan itu diputuskan menjadi 9 September 2021 dengan 252 jabatan kepala desa yang akan diisi.

Berdasarkan keterangan KPK, sejumlah usulan nama harus mendapat persetujuan dari orang kepercayaan Puput, yakni suaminya bernama Hasan Aminuddin. Persetujuan ini berbentuk paraf pada nota dinas pengusulan nama. Para calon pejabat kepala desa juga diwajibkan memberikan dan menyetorkan sejumlah uang.

Baca Juga:Aksi Plontos Sambut Penetapan Tersangka Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari

KPK RI menyampaikan, para tersangka mematok tarif jabatan kades di wilayahnya itu sebesar Rp 20 juta ditambah upeti tanah kas desa dengan tarif Rp 5 juta/hektare. "Dengan kekuasaan itu, ia gunakan untuk memberi stempel legitimasi bagi para calon yang telah ditentukan," ucap Atha.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini