facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Uji Klinis Vaksin Merah Putih di RS dr Soetomo Surabaya, Rektor Unair: Ini Vaksin Halal Pertama

Muhammad Taufiq Rabu, 09 Februari 2022 | 15:21 WIB

Uji Klinis Vaksin Merah Putih di RS dr Soetomo Surabaya, Rektor Unair: Ini Vaksin Halal Pertama
Uji Klinis Vaksin Merah Putih di Surabaya [SuaraJatim/Dimas Angga]

Usai mendapatkan rekom pemakaian pada manusia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Universitas Airlangga (Unair) akhirnya melakukan uji coba klinis di RSU Dr Soetomo.

SuaraJatim.id - Usai mendapatkan rekom pemakaian pada manusia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Universitas Airlangga (Unair) akhirnya melakukan uji coba klinis di RSU Dr Soetomo Surabaya. Mereka juga mengklaim vaksin Merah Putih halal.

Hal ini diungkapkan Rektor Unair Prof M Nasih pada sambutan seremoni uji klinis vaksin Merah Putih. Selain menjadi vaksin dalam negeri, juga sudah mendapat sertifikat halal dari MUI.

"Ini vaksin halal pertama, mendapatkan sertifikat halal. Kami dan Biotis sudah mendaftarkan sejak awal untuk mendapatkan sertifikat halal. Dan MUI terkait fatwa sudah mengunjungi pabrik Biotis di Bogor serta melihat bahan dan lain-lain," kata Nasih kepada wartawan di RSU dr Soetomo, Rabu (9/2/2022).

Vaksin Merah Putih telah mendapatkan sertifikat halal sebelum pelaksanaan uji klinis dimulai. Sertifikat halal itu berlaku hingga 5 tahun ke depan.

Baca Juga: Habis Gendam Tiga Emak-emak di Mal Surabaya, Pria Rembang Dibekuk Saat Kabur ke Sawah-sawah

"Status halal sampai 6 Februari 2026, berlaku 5 tahun mulai 7 Februari 2022-6 Februari 2026. Minggu lalu dilakukan rapat di MUI, tanggal 7 kemarin disidang plenokan dan Unair, Biotis untuk vaksin ini namanya UA SarsCov2 inactivated vaksin ini bisa mendapatkan sertifikat halalnya. Sertifikatnya sudah kita pegang semuanya," ujarnya.

Sertifikasi halal ini juga bisa diperpanjang. Nantinya, MUI juga akan mengecek lagi apakah bahan-bahannya sudah memenuhi syarat kehalalan.

"Bisa diperpanjang. Artinya MUI akan tetap melakukan pemantauan, sesekali melakukan sidak. Apakah kita benar-benar menggunakan semuanya dalam proses halal termasuk bahan-bahan akan terus dilakukan," jelasnya.

Ia berharap, dengan adanya vaksin yang tersetifikasi halal oleh MUI ini mempunyai otoritas. Selain itu juga kepercayaan dari masyarakat untuk bisa menggunakan vaksin ini.

"Kita sada bahwa ada beberapa pihak tidak mau vaksin karena aspek kehalalannya. Oleh karena itu kita ingin dengan terserrifikasi, mereka yang ragu-ragu dan belum divaksin itu akan segera memunculkan dirinya. Ayo kita vaksin bareng-bareng, ayo kita selamatkan Indenesia. Kalau belum vaksin bahaya luar biasa," ungkapnya.

Baca Juga: Pasutri di Gresik Ini Kompak Bobol Rumah Orang, Spesialis Garong Rumah Kosong

Selain itu, Nasih menjelaskan, jika uji klinis fase pertama ini diikuti 90 peserta, fase kedua 400 peserta, dan fase ke 3 5.000 peserta.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait