Orang Tua Siswi SMP Korban Pembunuhan di Mojokerto Masih Penasaran Motif Pelaku

Atok Utomo (35), orang tua AE (15) siswi SMPN 1 Kemlagi yang menjadi korban pembunuhan di Mojokerto merasa penasaran dengan motif pelaku.

BAEHAQI ALMUTOFI
Jum'at, 16 Juni 2023 | 18:00 WIB
Orang Tua Siswi SMP Korban Pembunuhan di Mojokerto Masih Penasaran Motif Pelaku
AE (15) siswi SMP korban pembunuhan di Mojokerto dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya, Selasa (13/6/2023). [SuaraJatim/Zen Arivin]

SuaraJatim.id - Atok Utomo (35) hanya bisa tertunduk lemas. Ketegarannya seketika runtuh saat jenazah putrinya AE (15) dimasukan ke liang lahat. Pelajar SMP di Mojokerto itu meninggal dunia mengenaskan usai menjadi korban pembunuhan.

Sebelumnya, AE yang merupakan siswi SMPN 1 Kemlagi itu ditemukan terbungkus karung putih di parit bawah jembatan rel kereta api, di Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Selasa (13/6) sekitar pukul 00.30 WIB.

Tidak lama setelah penemuan jasad remaja asal Kecamatan Kemlagi itu ditemukan, polisi meringkus dua orang terduga pelaku berinisial AW (15) dan MA (19).

Mirisnya, satu dari pelaku berinisial AW merupakan teman satu kelas korban. AW juga bukan orang lain, berdasarkan informasi yang diterima Atok dari rekan-rekan korban, pelaku juga pernah berpacaran dengan anak sulungnya tersebut.

Baca Juga:Babak Baru Kasus Pembunuh 'Tersenyum di Lift, Istri Rudolf Tobing Buka-bukaan

Tak berlebihan jika Atok memiliki harapan tinggi kepada para penegak hukum, agar AW dan MA dijatuhi hukuman berat.

"Harapannya, yang pasti ya pelaku diberikan hukuman sesuai hukum yang berlaku. Saya serahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian masalah hukumnya, karena pihak kepolisian yang lebih paham," tutur Atok saat ditemui usai prosesi pemakanan AE pada Selasa (13/6/2023) lalu.

Atok mengaku masih tak percaya dengan apa yang diperbuat AW dan MA terhadap buah hatinya tersebut. Meski sejauh ini polisi sudah menyatakan jika, motif pembunuhan siswi kelas IX SMPN 1 Kemlagi Mojokerto itu dilatarbelakangi persoalan dendam.

Kepada polisi AW mengaku kesal lantaran dibangunkan saat tidur di dalam kelas dan ditagih uang iuran Rp 40.000 yang sudah menunggak dua bulan.

Sementara itu, MA mengaku membutuhkan uang untuk memperbaiki ponsel miliknya yang rusak. Pelaku MA lantas mengajak AW membegal.

Baca Juga:Iuran hingga Spion, Hal Sepele yang Picu Aksi Kesetanan Bikin Nyawa Melayang

Mendengar ajakan itu, AW memutuskan agar AE yang dijadikan target sasaran. Skenarionya AW mengajak AE untuk bertemu di belakang rumahnya dan dibunuh untuk menguasai harta bendanya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini