“Alhamdulillah, sejak 2020 hingga Semester I 2026, Jawa Timur konsisten menjadi produsen padi dan beras tertinggi secara nasional. Capaian ini merupakan buah dari kerja keras para petani, penyuluh, kelompok tani, serta seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian,” katanya.
Menurut Khofifah, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Jawa Timur, tetapi juga merupakan tanggung jawab besar untuk terus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
“Jawa Timur tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Karena itu, posisi sebagai lumbung pangan Indonesia harus terus kita jaga dan perkuat,” tegasnya.
Meski capaian produksi terus meningkat, Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup hanya diukur dari tingginya hasil panen. Peningkatan produktivitas harus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan petani.
Baca Juga:Masuk Raudhah, Khofifah Kenang Kisah Tiang Aisyah dan Doakan Orang Tua Masuk Surga
Karena itu, Pemprov Jatim terus mendorong penguatan ekosistem pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan akses terhadap benih unggul dan pupuk, perbaikan sarana irigasi, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, perluasan akses pembiayaan, hingga penguatan pemasaran dan hilirisasi produk pertanian.
“Produksi yang tinggi harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil kerjanya, memiliki kepastian pasar, serta mendapatkan perlindungan dalam menjalankan usaha tani,” jelasnya.
Khofifah juga mendorong penguatan kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani agar memiliki posisi tawar yang semakin kuat. Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, serta berbagai komunitas pertanian juga terus dikembangkan.
Selain itu, modernisasi sektor pertanian dinilai penting untuk menjawab tantangan perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, serta kebutuhan peningkatan produktivitas.
Pemanfaatan teknologi pertanian, mekanisasi, digitalisasi pemasaran, penggunaan air secara efisien, serta penerapan pola budidaya yang ramah lingkungan perlu terus diperluas hingga menjangkau para petani di berbagai daerah.
Baca Juga:Tinjau Pembibitan Sapi Perah, Khofifah Dorong UPT Jadi Penggerak Peternakan Jatim
“Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pertanian Jawa Timur harus semakin adaptif, efisien, dan berbasis teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah diwariskan para pendahulu,” tuturnya.
Lebih lanjut, Khofifah mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian. Menurutnya, regenerasi petani merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pangan pada masa mendatang.
Pertanian saat ini tidak lagi identik dengan pekerjaan konvensional, tetapi telah berkembang menjadi sektor modern yang melibatkan inovasi teknologi, pengolahan produk, kewirausahaan, pemasaran digital, dan industri berbasis pertanian.
“Masa depan pangan berada di tangan generasi muda. Mari kita bangun pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, menguntungkan, dan membanggakan agar semakin banyak anak muda tertarik menjadi petani maupun wirausaha pertanian,” ajaknya.
Pada momentum Hari Tani Nasional 2026, Khofifah kembali menyampaikan penghargaan kepada seluruh petani pangan, hortikultura, dan perkebunan yang terus bekerja menjaga produktivitas pertanian Jawa Timur di tengah berbagai tantangan.
Ia berharap petani Jawa Timur semakin tangguh, sejahtera, dan berdaya saing serta terus menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan Indonesia.