- Transformasi pascamerger Pelindo sejak 2021 meningkatkan produktivitas terminal di atas 70 persen dan mengurangi waktu singgah kapal.
- INSA menyatakan perbaikan layanan Pelindo telah dirasakan pengusaha pelayaran, namun standardisasi peralatan bongkar muat masih perlu ditingkatkan.
- Pengamat ITS menilai standardisasi terpusat telah diterapkan, tetapi konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya homogen secara nasional.
SuaraJatim.id - Lima tahun pascamerger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, transformasi pengelolaan terminal peti kemas terus diarahkan pada standardisasi layanan, peningkatan efisiensi, serta penguatan kapasitas dan kualitas pelayanan. PT Pelindo Terminal Petikemas menyebut transformasi tersebut telah mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memangkas waktu singgah kapal dan barang berada di pelabuhan.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan transformasi sejak merger pada 2021 telah mendorong produktivitas terminal lebih dari 70 persen.
“Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien,” kata Widyaswendra saat dihubungi Rabu (30/9/2026).
Menurut dia, transformasi dilakukan melalui standardisasi, sistematisasi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Dari 32 terminal yang dikelola, hampir seluruhnya mulai menunjukkan perbaikan.
Baca Juga:TP2DD Jatim Raih Penghargaan, Gubernur Khofifah Pastikan Digitalisasi Bermanfaat bagi Masyarakat
“Karena merger sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya sudah terlihat secara nyata,” katanya.
Transformasi juga mencakup optimalisasi peralatan. Merger memungkinkan peralatan dari terminal yang memiliki kecukupan alat dialihkan ke terminal lain yang lebih membutuhkan.
“Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat. Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan,” jelasnya.
Langkah tersebut turut berdampak terhadap port stay dan cargo stay. “Dampaknya, port stay dan cargo stay menjadi lebih baik,” katanya.
Peningkatan produktivitas juga membuka peluang kerja sama dan pengembangan rute baru. “Dari situ kami melihat banyak peluang, mulai dari pengembangan bisnis dengan kerja sama antarkorporasi sampai pembukaan rute-rute atau service baru. Banyak rute baru yang diperoleh karena produktivitas masing-masing terminal sudah tinggi,” ujar Wendra.
Baca Juga:Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang dan Investasi Jatim-Arab Saudi, Potensi Transaksi Rp6,71 T
Wendra mengatakan transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem maritim sekaligus mendukung efisiensi biaya logistik nasional.
“Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik,” katanya.
INSA Dorong Perbaikan Berkelanjutan
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan perbaikan layanan Pelindo selama lima tahun merger telah dirasakan perusahaan pelayaran di berbagai wilayah.
“Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo,” kata Carmelita saat dihubungi Rabu (30/9/2026).
Menurut dia, pembenahan masih perlu dilanjutkan untuk menciptakan layanan yang semakin terintegrasi di seluruh Indonesia. “Sampai sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih terintegrasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.