- Ledakan tabung gas elpiji 50 kilogram di Pakuwon City, Surabaya, merusak puluhan bangunan dan kendaraan.
- Para korban yang terluka akibat gelombang kejut berlari menyelamatkan diri ke kedai seberang jalan.
- Tim Labfor Polda Jatim mengevakuasi tabung gas sebagai barang bukti penyelidikan hingga hari Selasa siang.
SuaraJatim.id - Di balik hancurnya puluhan bangunan akibat ledakan tabung gas elpiji 50 kilogram di kawasan San Antonio, Pakuwon City, Surabaya, tersisa kisah pilu dari orang-orang yang berjuang menyelamatkan diri dari kobaran hawa panas.
Pagi itu, sebuah kedai bernama Bakmie Karet yang berada persis di seberang titik ledakan mendadak berubah fungsi menjadi posko gawat darurat.
Tito, salah seorang pegawai kedai tersebut, masih gemetar saat menceritakan detik-detik mencekam usai ledakan meremukkan gerai kuliner Rumah Makan Dewi Sri (Nasi Tempong).
Sambil membersihkan serpihan kaca tajam yang menempel di helmnya, ia menyaksikan korban-korban yang bersimbah luka berlarian menyeberang jalan ke tempat kerjanya untuk meminta suaka.
Baca Juga:Bukan Bom! Gegana Ungkap Biang Kerok Ledakan Pakuwon City yang Hancurkan 41 Bangunan
Kondisi mereka sangat mengenaskan. Gelombang kejut dan hawa panas ledakan mencabik-cabik pakaian yang mereka kenakan hingga robek tak berbentuk.
"Mereka lari ke arah saya dalam kondisi panik luar biasa. Ada yang minta dipanggilkan ambulans, ada yang minta air karena badannya terasa panas terbakar, ada yang minta kain untuk menutup tubuh karena pakaiannya robek-robek. Bahkan ada yang menangis minta diteleponkan mamanya," tutur Tito dengan suara tertahan.
Saking paniknya, sejumlah korban langsung menyerbu toilet kedai untuk menyiram tubuh dan membasuh luka bakar mereka.
Tito menemukan gumpalan rambut yang rontok dan gosong tertinggal di lantai kamar mandi akibat paparan panas ekstrem.
Tito juga mengungkap bahwa korban bukan hanya lima karyawan dapur. Petaka pagi itu turut menyasar orang-orang yang kebetulan melintas di area tersebut.
Baca Juga:Cerita Mencekam Saksi Mata Selamat dari Ledakan Ruko di Pakuwon City: Lihat Karyawan Terbakar
"Ada satu pelanggan kami yang kena serpihan di bagian paha setelah memesan makanan, dan satu pengemudi ojek online yang lagi ambil orderan kepalanya terluka," imbuh Tito.
Di luar kedai, pemandangan bak zona perang terhampar. Aparat kepolisian membentangkan garis polisi sepanjang 50 meter guna menyegel perimeter bahaya.
Di dalam batas kuning tersebut, belasan kendaraan bermotor hancur tak berbentuk. Kerusakan paling parah menimpa empat unit mobil dan tujuh sepeda motor yang terparkir di depan gerai nasi tempong.
Kendaraan-kendaraan tersebut ringsek, kaca-kacanya lenyap, dan bodinya tertimbun reruntuhan beton serta pecahan kaca.
Dua unit sepeda motor milik Tito dan rekannya, Rangga, turut rusak parah dihantam lontaran material keras.
Hingga Selasa siang, Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim masih menyisir puing-puing bangunan.
Satu tabung gas elpiji raksasa berukuran 50 kilogram tampak telah dievakuasi keluar dari reruntuhan ruko sebagai barang bukti kunci penyelidikan kebocoran instalasi maut tersebut.