- Warga RW 2 Gunungsari, Surabaya, berhasil mengubah ribuan gelas plastik bekas menjadi kostum karnaval bernilai jutaan rupiah sejak tahun 2016.
- Kegiatan produksi kostum yang dipimpin guru bernama Wahono Karyo ini melibatkan ibu-ibu PKK dan Karang Taruna untuk menggerakkan ekonomi.
- Inisiatif kreatif berbasis gotong royong tersebut berhasil mengantar wilayah itu menjadi kandidat Kampung Pancasila dengan berbagai program sosial.
Dari pengalaman itu, kreativitasnya terus berkembang. Ia tidak hanya membuat kostum menggunakan bahan baru, tetapi juga mulai memanfaatkan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Salah satu material yang paling banyak digunakan adalah gelas plastik bekas minuman.
Jangan bayangkan gelas plastik itu hanya ditempel begitu saja. Dalam proses produksinya, gelas-gelas bekas harus dipilah, dibersihkan, dipotong, kemudian dibentuk sedemikian rupa hingga menghasilkan ornamen yang sesuai dengan desain.
Pada salah satu kostum, misalnya, gelas plastik berukuran jumbo dipotong menjadi beberapa bagian, kemudian ditekuk dan dirangkai hingga menyerupai sayap.
Baca Juga:Janjikan Jalur Khusus Masuk Kejaksaan, Oknum Advokat di Surabaya Gasak Duit Korban Rp520 Juta
"Kalau ini dari gelas bekas minuman. Gelas yang ukurannya jumbo itu kita belah menjadi beberapa bagian, kemudian kita tekuk. Akhirnya bisa menjadi sayap," jelasnya.
Untuk satu desain tertentu, kebutuhan materialnya bahkan bisa mencapai lebih dari 1.000 gelas plastik. Sementara tutup botol biasanya digunakan sebagai pelengkap untuk memperkuat detail dan variasi ornamen.
Proses tersebut jelas membutuhkan tenaga dan kesabaran. Karena itu, Wahono tidak mengerjakannya sendirian.
Ia mengajak ibu-ibu PKK dan anggota Karang Taruna untuk terlibat dalam proses produksi. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, seperti memotong gelas plastik dalam jumlah besar, dikerjakan bersama-sama.
Dalam satu kegiatan produksi, sedikitnya lima orang bisa dilibatkan hanya untuk mengerjakan pemotongan material.
Baca Juga:Babak Baru Korupsi Kebun Binatang Surabaya: Sprindik Jilid II Terbit, Aliran Dana ke Dewan Disorot
"Teman-teman Karang Taruna dan ibu-ibu membantu pekerjaan yang kecil-kecil seperti ini. Untuk satu desain, kadang kita membutuhkan sampai 2.000 gelas. Kemudian harus dipotong-potong. Itu membutuhkan sekitar lima orang," ungkapnya.
Pembagian pekerjaan dilakukan berdasarkan kemampuan masing-masing. Wahono bertanggung jawab pada desain dan pengerjaan teknis utama, sementara warga membantu menyiapkan bahan, memotong, menempel, hingga merangkai ornamen.
Ketika ada pesanan dalam jumlah besar atau tenggat waktu yang singkat, jumlah tenaga yang dilibatkan juga ditambah.
Di sinilah kegiatan yang semula berangkat dari kreativitas pribadi mulai berkembang menjadi aktivitas kolektif masyarakat.
Dari Bengkel Kreatif Kampung, Kostum Menembus Pasar
Kreativitas warga RW 2 Gunungsari ternyata tidak berhenti pada kegiatan lingkungan atau perlombaan antarkampung. Kostum-kostum hasil produksi mereka mulai memiliki pasar tersendiri.