SuaraJatim.id - Masyarakat Kepuluan Bawean, Kabupaten Gresik punya cara unik mengusir pagebluk. Caranya dengan menggelar kirab pusaka dan berkeliling kampung.
Tradisi ini sudah dijalankan selama puluhan tahun sejak tokoh yang disakralkan Waliyah Zainab datang ke Pulau Bawean.
Sekadar diketahui, masyarakat Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, berkeliling kampung dengan membawa pusaka.
Namun pusaka dalam hal ini bukanlah senjata tajam pada umumnya. Melainkan tongkat kayu yang diukir semenarik mungkin.
Selain berkeliling kampung dengan mambawa pusaka, tokoh adat dan warga setempat juga melafalkan zikir dan selawat. Tradisi ini diyakini masyarakat sebagai penolak balak atau penyakit.
Apalagi dalam suasana seperti ini, tradisi kirab pusaka dianggap sangat tepat digelar untuk memulihkan suasana dari pandemi Covid-19.
Kepala Desa Diponggo Muhammad Salim mengatakan, tongkat kayu disimbolkan sebagai pusaka penjaga diri. Sebab menurut cerita-cerita para leluluhur, para tokoh dan ulama sebelumnya berdakwah menggunakan tongkat.
"Disamping menjalankan tradisi juga menjaga amanah Waliyah Zainab. Tokoh yang sampai sekarang menjadi panutan masyarakat setempat," kata Salim saat dihubungi, Jumat (4/9/2020).
Menurut Salim, tradisi kirab itu hanya boleh diikuti oleh para bapak dan anak laki-laki. Sedangkan untuk kaum perempuan, mempersipakan alat dan sarana kirab. Seperti membakar kemenyan dan lain-lain.
Baca Juga: KSAD ke Jatim Tujuannya Untuk Belanja Masalah Covid-19
"Pandemi sebenarnya kan sudah ada sejak zaman dahulu. Cuman istilahnya berbeda, lah kami masyarakat Bawean ingin mewarisi tradisi, yaitu bagiamana cara orang dulu membebaskan diri dari balak atau musibah pandemi," tuturnya.
Diceritakan, jauh sebelum masyarakat Bawean mengenal Islam, wilayah pulau ini masih dikuasai oleh Majapahit, melalui Kadipaten Tuban.
Kemudian warga setempat mulai mengenal Islam sejak dua tokoh pendakwah dari Jawa datang. Keduanya adalah Syekh Maulana Masud dan Waliyah Zainab.
Ketika datang ke Bawean, kedua tokoh pendakwah ini membawa pengaruh sangat besar terhadap kebudayaan warga setempat. Mereka juga mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam.
Bahkan, bahasa Jawa yang merupakan bahasa asing bagi warga setempat, malah populer di desa yang ditinggali oleh Waliyah Zainab.
"Berharap bagaiamana kirab ini terus berlanjut oleh generasi dan penerus budaya leluhur kita. Karena ada nilai historis dan spritual yang sangat baik untuk terus dikembangkan dan dilestarikan," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Bebas Bersyarat 2 Napi Lapas Blitar Dicabut, Buntut Aniaya Napi hingga Tewas
-
4 WNA Perempuan Pencuri Emas 135 Gram di Surabaya Diciduk, Beraksi Saat Malam Natal
-
Cuaca Ekstrem Mengancam Jawa Timur hingga 20 Januari, Berpotensi Banjir dan Longsor
-
Banjir Bengawan Jero Rendam Puluhan Sekolah di Lamongan, Siswa Dijemput Pakai Perahu
-
Ratusan Tukang Jagal Bawa Sapi ke DPRD Surabaya, Tolak Relokasi RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun