SuaraJatim.id - Anggota DPRD Jatim Wara Sundary Renny Pramana menyoroti anggaran program gizi di Dinas Kesehatan provinsi.
Menurut Renny harus ada evaluasi terhadap alokasi anggaran, terutama pada daerah yang memiliki prevelensi stunting tinggi.
Politikus PDI Perjuangan itu mengakui memang secara keseluruhan angka prevelensi stunting di Jawa Timur turun dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen di 2024.
Namun, distribusi anggaran untuk penurunan stunting belum merata antar-daerah. Kabupaten Jember dan Mojokerto, misalnya, yang memiliki prevalensi stunting tinggi, belum mendapat alokasi anggaran yang proporsional.
“Ini bukan sekadar penurunan angka, tapi tentang bagaimana pemerataan program bisa benar-benar menyentuh daerah yang paling membutuhkan. Saat ini, masih banyak ketimpangan, baik dalam hal anggaran maupun pelaksanaan program,” ujar Renny yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim.
Berdasarkan data yang diperoleh masih ada sekitar 430.780 balita yang melami gagal tumbuh karena kekurangan gizi.
Dia berharap pengalokasian anggaran bisa lebih merata, sehingga dapat menjangkau daerah-daerah yang memiliki prevelensi stunting tinggi. “Daerah dengan angka stunting tinggi semestinya menjadi prioritas utama dalam pembagian anggaran dan sumber daya,” tegasnya.
Anggaran tersebut bisa dibahas dan dimasukkan dalam Perubahan APBD 2025 yang saat ini sedang dibahas bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
“Kita ingin ada penguatan program stunting dalam pembahasan APBD Perubahan. Kami sudah mengusulkan agar daerah dengan kondisi gizi kronis tinggi menjadi perhatian khusus dalam pembahasan ini,” ucapnya.
Baca Juga: Debut Krusial Eduardo Perez: Ujian Perdana Racikan Spanyol di Laga Persebaya vs PSIM
Keberhasilan penanganan masalah melalui pendekatan program antar-wilayah ini telah dilakukan Kota Suraaya.
Ibu Kota Jawa Timur ini tela berhasil menurunkan angka stunting dari 28,9 persen pada 2021 menjadi hanya 1,6 persen di 2023 dengan memanfaatkan teknologi seperti aplikasi Sayang Warga.
Renny mengajak kabupaten dan kota lain untuk meniru Surabaya dalam hal inovasi penanganan stunting tersebut. “Kita bisa belajar dari Surabaya, bagaimana inovasi, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen politik bisa menghasilkan perubahan nyata," ungkapnya.
Tinggal sekarang diberi kapasitas yang sama untuk meniru keberhasilan Kota Surabaya.
Selain inovasi, Renny yang duduk di Komisi E bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat juga menyinggung masalah tenaga kesehatan terlatih, khususnya di daerah terpencil.
Keberadaan tenaga kesehatan yang terlatih dan mempunyai pemahaman terbaru akan memengaruhi cakupan intervensi gizi spesifik dan sensitif di wilayah-wilayah rentan.
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Lindungi Anak-Anak, Wali Kota Surabaya Stop Izin Diskotek Baru
-
Kasus Dugaan Korupsi Kupedes Rp1,24 Miliar Segera Masuk Pengadilan Tipikor Surabaya
-
JARI98 Ungkap Peran Strategis Listyo Sigit di KSP, 'Benteng Kokoh' Presiden Prabowo?
-
Kulakan Sabu di Makam Bangkalan, Pengedar Lintas Madura-Surabaya Diciduk
-
Nekat Terobos Rel Tanpa Palang, Mobil Dihantam KA di Lumajang: Pengemudi Lolos dari Maut