- Yasinan berakar dari tradisi membaca surat Yasin, bukan amalan baru, dan memiliki dasar syariat kuat.
- Surat Yasin diyakini membawa ampunan, ketenangan, serta rahmat bagi yang sakit atau telah wafat.
- Tradisi yasinan di Nusantara jadi sarana silaturahmi, doa bersama, dan wujud cinta umat pada Al-Qur’an. Bisa buka di https://islam.suara.com/alquran
5. Jejak Imam Syafi’i dan Para Ulama
Masyarakat Indonesia yang mayoritas mengikuti Mazhab Syafi’i tentu meneladani praktik para ulama besar Syafi’iyah. Dikisahkan dalam Tawali Takhis halaman 178, ketika Imam Syafi’i wafat, para muridnya berkumpul di dekat jenazah beliau.
Salah satu murid membaca surat Yasin, dan tidak seorang pun mengingkarinya. Mereka terus berdiri mendampingi hingga proses pemakaman selesai.
Dari peristiwa inilah banyak ulama kemudian memperbolehkan membaca Al-Qur’an untuk menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia.
6. Dari Tradisi Ulama Menjadi Tradisi Nusantara
Kebiasaan para ulama membaca Yasin untuk mayit kemudian berkembang luas di kalangan masyarakat Indonesia.
Seiring waktu, kegiatan ini dikenal dengan istilah “yasinan” kegiatan berjamaah untuk membaca surat Yasin dan mendoakan keluarga yang telah meninggal.
Selain itu, yasinan juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan spiritual, tempat berbagi doa, sedekah, dan saling mendoakan.
7. Bukan Bid’ah, Tapi Wujud Cinta Umat
Baca Juga: DVI Jatim Ungkap Identitas 3 Korban Ponpes Al Khoziny: Ini Datanya!
Sebagian orang mungkin masih mempertanyakan dasar yasinan karena Rasulullah ﷺ tidak mencontohkan langsung dalam bentuk jamaah seperti sekarang.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa selama kegiatan tersebut berisi hal-hal yang baik seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa bersama maka termasuk amal yang dianjurkan (mustahab).
Yasinan bukanlah “ibadah baru”, melainkan bentuk kecintaan umat kepada Al-Qur’an dan usaha menghadiahkan pahala kepada sesama muslim. Selama tidak menambah tata cara yang menyimpang, kegiatan ini tetap dalam koridor syariat.
Lebih dari sekadar tradisi, yasinan memiliki makna spiritual mendalam yakni mengingatkan manusia pada kematian dan akhirat, menumbuhkan empati serta kepedulian terhadap sesama, menguatkan hubungan sosial dan ukhuwah Islamiyah dan menjaga semangat membaca Al-Qur’an di tengah rutinitas dunia.
Dengan demikian, yasinan menjadi sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sekaligus bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita.
Tradisi yasinan bukan sekadar warisan budaya, tapi juga wujud ekspresi keimanan masyarakat Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Duel Berdarah di Sampang: Tak Terima Ibu Dipacari Lansia, Anak Nekat Carok
-
Warga 4 Desa Melawan Penutupan Akses Bendungan Lahor
-
Lutung Jawa Dipelihara Warga di Bondowoso Dievakuasi, Kini Jalani Rehabilitasi
-
Geger di Lapangan Kodim Ponorogo: Dikira Tidur, Pria Misterius Ditemukan Tak Bernyawa di Selokan
-
Pasangan Pencuri Gasak Vario Karyawan RSUD Jombang di Depan Kamar Mayat