- Fenomena yang tengah ramai diperdebatkan publik terkait tayangan program "Xpose Uncensored"
- Tradisi memberi amplop disebut bukan transaksi ekonomi
- Dalam budaya pesantren, santri dan masyarakat percaya bahwa berbagi rezeki dengan guru adalah cara mengharap berkah
SuaraJatim.id - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Nusa Tenggara Barat, K.H. M. Iqbal Mansyuri, mengatakan tradisi memberikan amplop atau hadiah kepada ulama dan guru agama bukanlah praktik baru, melainkan telah dikenal sejak masa Rasulullah SAW.
Hal itu disampaikan Kiai Iqbal dalam podcast "Seputar Pesantren" yang digelar Perum LKBN ANTARA Biro Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Kamis (16/10).
Podcast tersebut membahas fenomena yang tengah ramai diperdebatkan publik terkait tayangan program "Xpose Uncensored" salah satu stasiun televisi swasta nasional yang dinilai melecehkan kiai, pesantren, dan santri.
"Memberi hadiah kepada ulama atau guru agama itu bagian dari bentuk penghormatan dan kecintaan kepada orang berilmu. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Rasulullah, ketika para sahabat memberikan hadiah sebagai tanda terima kasih,"ujar Kiai Iqbal, yang juga pengasuh Pondok Pesantren NU Al-Manshuriyah Ta'limusshibyan, Bonder, Lombok Tengah.
Menurut alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, tersebut, tradisi memberi amplop bukan transaksi ekonomi, tetapi bagian dari ta'dzim (penghormatan) yang berakar pada nilai spiritual.
Dalam budaya pesantren, santri dan masyarakat percaya bahwa berbagi rezeki dengan guru adalah cara mengharap berkah ilmu.
"Kalau dilihat dari luar pesantren, mungkin tampak janggal. Tapi bagi kami, itu bentuk adab dan rasa terima kasih. Rasulullah sendiri menerima hadiah dari sahabat dan membalasnya dengan doa dan keberkahan," katanya.
Dalam podcast berdurasi sekitar 40 menit itu, Wakil Ketua Lembaga Dakwah PWNU NTB tersebut juga menyoroti pentingnya media memahami konteks budaya pesantren agar tidak salah tafsir.
Ia menilai pemberitaan yang tidak berimbang dapat menimbulkan luka sosial dan mencederai nilai luhur pesantren sebagai lembaga pendidikan moral dan spiritual.
Baca Juga: Khofifah Ungkap 'Rahasia' Muslimat NU Jadi Lebih Kuat: Talent DNA Jadi Kunci!
"Media perlu sensitif terhadap budaya. Jangan sampai niatnya mengulas fenomena, tapi justru menimbulkan kesalahpahaman yang melukai umat," ujarnya.
Kiai Iqbal berharap polemik terkait tayangan televisi itu menjadi pelajaran bersama bagi insan pers agar lebih berhati-hati dalam menampilkan konten yang menyangkut kehidupan keagamaan.
Ia juga mendorong agar antara media dan pesantren dibangun dialog berkelanjutan demi memperkuat literasi keagamaan dan kebangsaan di ruang publik.
"Pesantren dan media sama-sama punya misi mencerdaskan bangsa. Kalau keduanya saling memahami, maka lahir masyarakat yang bijak dan beradab," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Gubernur Khofifah Terima Penghargaan CSR dan Pengembangan Desa Berkelanjutan Award 2026
-
Momentum Hari Kartini, Gubernur Khofifah Bagikan BBM Gratis & Sembako untuk Ojol Perempuan di Malang
-
Holding Ultra Mikro BRI Percepat Inklusi Keuangan dan Naik Kelas Debitur PNM
-
Gugatan Rp7 Miliar Ressa Terhadap Denada Kandas: Hakim PN Banyuwangi Sebut Salah Alamat
-
Ribuan Jemaah Embarkasi Surabaya Terbang ke Tanah Suci, 2 Orang Terpaksa Tertunda Karena Sakit