- Suku Osing keturunan Kerajaan Belambangan, simbol keteguhan menjaga budaya dan perlawanan Jawa timur.
- Mereka memadukan warisan Hindu, nilai Islam, dan seni seperti Tari Gandrung sebagai wujud spiritualitas.
- Desa Adat Kemiren jadi pusat budaya Osing, bukti tradisi kuno bisa lestari di tengah arus modernisasi.
SuaraJatim.id - Di ujung timur Pulau Jawa, terdapat komunitas unik yang dikenal dengan keteguhan dan kebanggaannya menjaga tradisi leluhur: Suku Osing.
Mereka hidup terutama di wilayah Banyuwangi dan dianggap sebagai keturunan langsung dari Kerajaan Belambangan, kerajaan Hindu terakhir di Jawa yang tetap berdiri tegak bahkan setelah Majapahit runtuh.
Meski kini mayoritas masyarakat Osing telah memeluk Islam, jejak budaya dan spiritualitas kuno mereka masih terjaga kuat dalam bahasa, kesenian, serta adat istiadat yang khas.
Sebagaimana dikutip dari Eko History berikut tujuh fakta menarik tentang Suku Osing yang membuat mereka menjadi simbol keteguhan budaya di Nusantara.
1. Pewaris Kerajaan Belambangan, Benteng Terakhir Hindu di Jawa
Suku Osing tidak muncul begitu saja. Mereka adalah keturunan langsung masyarakat Kerajaan Belambangan, kerajaan yang berdiri antara abad ke-15 hingga ke-18 di wilayah timur Pulau Jawa.
Belambangan dikenal sebagai benteng terakhir kebudayaan Hindu-Jawa setelah Majapahit runtuh. Ketika sebagian besar wilayah Jawa beralih ke Islam, masyarakat Belambangan tetap mempertahankan keyakinan dan adatnya.
Kegigihan mereka inilah yang melahirkan identitas Osing. Dalam sejarah, masyarakat Belambangan bahkan sering menolak tunduk pada kekuasaan Mataram Islam maupun VOC Belanda. Dari semangat perlawanan itu, lahirlah sebutan “Osing” yang berarti “tidak mau” atau “menolak”.
2. Asal-usul Nama “Osing”: Simbol Keteguhan dan Perlawanan
Baca Juga: Situs Kuno Diduga Permukiman Era Majapahit Ditemukan Dekat Sungai Brantas
Kata Osing berasal dari istilah “balitusing”, yang artinya “tidak” dalam bahasa Jawa Kuno. Sebutan ini muncul karena masyarakat Belambangan dikenal keras kepala, tidak mau tunduk, dan selalu mempertahankan kebebasan.
Sikap “tidak mau menyerah” ini menjadi jati diri mereka hingga kini. Osing bukan sekadar nama etnis, melainkan simbol perlawanan terhadap penyeragaman budaya dan kekuasaan luar.
Itulah sebabnya masyarakat Osing sangat bangga dengan identitasnya, bahkan di era modern mereka tetap mempertahankan bahasa, kesenian, dan adat sendiri di tengah arus globalisasi.
3. Bahasa Osing: Campuran Jawa Kuno, Bali, dan Madura
Bahasa Osing menjadi ciri khas yang membedakan mereka dari masyarakat Jawa pada umumnya. Meski berakar dari bahasa Jawa Kuno, bahasa Osing memiliki struktur dan kosakata berbeda.
Contohnya, kata “tidak” dalam bahasa Jawa disebut “ora”, sedangkan dalam bahasa Osing disebut “osing”. Dari kata inilah nama suku ini berasal.
Bahasa mereka juga menyerap banyak unsur bahasa Bali dan Madura karena letak geografis Banyuwangi yang berdekatan dengan kedua wilayah tersebut.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Mau Gratiskan Pendidikan SD hingga Universitas Negeri, Dananya dari Uang Korupsi
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Viral Video Ulama Houthi Serukan Serangan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- 6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
- Viral Foto Duduk Bareng, Terungkap 6 Momen Kedekatan Gubernur Sherly dan Ahmad Luthfi
Pilihan
-
Sejarah Terulang! Beras Premium Kini Langka di RI
-
Emil Audero dan 5 Pemain Tinggalkan Rayo Vallecano
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
Terkini
-
Bechi Anak Kiai Jombang Terpidana Kekerasan Seksual Santriwati Ternyata Diam-diam Bebas
-
Gubernur Khofifah Perluas Penyaluran Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan hingga Ponorogo
-
Bikin Geger Bawean: Turis Swiss Dikira Hilang Misterius, Ternyata Lagi Asyik Blusukan
-
5 Masalah Keuangan yang Sering Dialami Wisatawan Indonesia di Luar Negeri
-
Gubernur Khofifah Gelar Pasar Murah ke-139 di Mojokerto, Dekatkan Akses Bahan Pokok Terjangkau