-
Warga menyeberang sungai setiap hari demi sekolah dan bekerja.
-
Lima anak terpaksa digendong orang tua saat arus deras.
-
Desa akui belum mampu bangun jembatan permanen karena anggaran.
SuaraJatim.id - Suasana tanpa jembatan masih menjadi kenyataan pahit bagi warga Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (Jatim).
Di tengah geliat pembangunan tahun 2026, akses keluar masuk wilayah itu tetap bergantung pada aliran sungai yang harus diterobos setiap hari.
Kondisi tanpa jembatan di Ponorogo tersebut bukan hanya menyulitkan aktivitas warga dewasa, tetapi juga berdampak langsung pada anak-anak yang hendak menempuh pendidikan.
Saat debit air meningkat, orang tua harus turun tangan menggendong mereka agar bisa sampai ke seberang.
Fakta tanpa jembatan ini dialami sedikitnya enam kepala keluarga di RT 01 RW 01. Tidak ada penghubung permanen menuju jalan utama, sehingga sungai menjadi satu-satunya jalur tercepat yang bisa dilalui.
“Setiap hari kalau berangkat dan pulang sekolah, anak-anak harus digendong untuk menyeberangi sungai,” kata Soiman, dikutip dari BeritaJatim, Kamis (12/2/2026).
Tercatat ada lima anak dari dusun tersebut yang harus menyeberang demi sekolah. Dua anak TK, dua anak SD, dan satu siswa SMK. Anak-anak usia dini tidak memiliki pilihan lain selain digendong. Sementara sepeda motor milik orang tua dititipkan di rumah warga yang berada di seberang.
“Yang sekolah itu ada lima anak. Kalau yang kecil jelas harus digendong. Motor dititipkan ke tetangga di seberang,” ungkap Soiman.
Sebenarnya tersedia jalur alternatif berupa jalan setapak. Namun jaraknya memutar hingga sekitar tiga kilometer. Bagi warga yang bekerja maupun anak-anak yang harus berangkat pagi, rute itu dinilai tidak efisien.
Soiman mengingat, pada 2006 silam pernah ada jembatan bambu yang dibangun sebagai akses penghubung. Namun keberadaannya tidak bertahan lama setelah diterjang banjir saat musim penghujan.
“Dulu ada jembatan dari bambu. Tapi tidak lama, hilang diterjang banjir saat musim penghujan,” katanya.
Sejak jembatan itu hilang, warga kembali bergantung pada sungai. Ketika kemarau, jalur masih bisa dilewati dengan hati-hati. Namun saat hujan turun, risiko keselamatan meningkat.
Katijem, warga lainnya, mengaku rutin menyeberangi sungai demi mengantar cucunya sekolah. Jika debit air naik dan arus deras, anak-anak terpaksa absen sehingga proses belajar terganggu.
“Kalau banjir ya tidak masuk sekolah. Tidak bisa lewat karena arusnya deras. Musim hujan ini sudah dua kali tidak masuk,” ujar Katijem.
Kepala Desa Sidoharjo, Sarmin, membenarkan warganya memang harus melewati sungai setiap hari. Meski hanya beberapa rumah, dampaknya terasa besar bagi kegiatan mereka.
Berita Terkait
-
Sungai Musi Surut! Tinggi Muka Air Kini Cuma 0,88 Meter
-
Puluhan Ton Ikan Mati Tiap Bulan, Sungai Batanghari Makin Sekarat
-
Gibran di Gayo Lues: Kondisi Alamnya Begini, Normalisasi Sungai Itu Lebih Mahal dari Bikin Jembatan
-
Sungai Cileungsi Tercemar Limbah, Kualitas Air Lampaui Baku Mutu
-
17 Tahun Menunggu, Transmigran di Kerinci Masih Hidup Tanpa Listrik
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Penanganan Karhutla Bromo Fokus Pembasahan Delapan Hotspot
-
Skandal Suap Bupati Ponorogo: Sugiri Sancoko Dijatuhi Hukuman 6,5 Tahun Penjara
-
Dorong Inklusi Keuangan, BRImo Raih 3,32 Miliar Transaksi dengan Volume Rp4.166 Triliun
-
Pelajar Trenggalek Dilarikan ke RSUD dr Soedomo Akibat Keracunan MBG
-
Hari Pramuka ke-65, Gubernur Khofifah Ajak Pramuka Jatim Jadi Penggerak Swasembada Pangan