Riki Chandra
Sabtu, 21 Februari 2026 | 21:15 WIB
Ilustrasi Sound Horeg [AI Imagen 4]
Baca 10 detik
  •  MSC 2026 Mojokerto diprotes akibat dentuman sound horeg.

  • Plafon rumah warga disebut rontok dan tidak roboh.

  • Pemerintah desa klaim masalah sudah selesai.

3. Pengakuan Kepala Desa

Miftahuddin membenarkan adanya insiden plafon yang rontok. Akan tetapi, ia menilai persoalan tersebut tidak sebesar yang berkembang di media sosial.

"Sampai hari ini sudah tidak ada masalah. Cuman di medsos ini kan kalau sudah masuk seakan-akan kayak besar masalahnya. Padahal kan tidak sampai rumahnya roboh dan seterusnya. Kalau (plafon) rontok itu kan faktornya ya memang plafonnya sudah mau rontok," ujarnya.

4. Ada Surat Pernyataan Sebelum Acara

Sebelum karnaval digelar, pemerintah desa, panitia, RT, dan masyarakat disebut telah menandatangani surat pernyataan. Dokumen itu memuat persetujuan sekaligus pemahaman atas risiko acara.

"Kami sebelum acara, kami sudah membuat surat pernyataan, mulai dari pernyataan dari pemerintah desa, panitia, RT dan masyarakat. Mungkin dia lupa tidak melihat saat tanda tangan itu. Artinya, sama-sama tanggung jawab," jelas Miftahuddin.

5. Panitia Datangi Warga yang Mengeluh

Ketika muncul komplain sebelum karnaval dimulai, panitia disebut langsung mendatangi pemilik rumah untuk memberikan penjelasan. Langkah ini dilakukan agar warga memahami risiko dari penggunaan sound horeg.

"Ketika kami datangi, kami jelaskan, bisa memahami. Artinya tidak sampai orang yang tidak suka sound yang terlalu, endak seperti itu. Toh di balai desa dan rumah warga yang kacanya besar-besar itu kenyataannya tidak ada yang pecah," tandasnya.

Di tengah polemik yang bergulir, pemerintah desa menegaskan bahwa persoalan terkait MSC 2026 Mojokerto telah diselesaikan dan tidak ada kerusakan berat seperti yang ramai diperbincangkan.

Load More