Fabiola Febrinastri | Tantri Amela Iskandar
Senin, 13 April 2026 | 18:36 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melaksanakan groundbreaking penataan JLKT di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Kabupaten Probolinggo, Senin (13/4). (Dok: Pemprov Jatim)

_*Resmikan Penyediaan Sarana Prasarana Air Bersih untuk Wisatawan Kawasan Bromo*_

Tak hanya itu, di kesempatan ini Gubernur Khofifah meresmikan sarana prasarana air bersih sebagai wujud dukungan Pemprov Jatim untuk menunjang kenyamanan wisatawan Kawasan Bromo Tengger Semeru. 

Diketahui, tangki air berkapasitas 12.000 liter disiapkan untuk melayani kawasan rest area Watu Gede dan Cemoro Lawang dengan kebutuhan sekitar 11.000 liter per hari yang bersumber dari mata air Pusung Jantur dan Widodaren.

Dengan adanya pembangunan JLKT dan penyediaan sarana air bersih, Gubernur Khofifah menyebut hal ini menjadi bagian dari visi besar pariwisata berkelanjutan Jawa Timur yang berpijak pada tiga pilar utama, yakni pelestarian lingkungan, penguatan budaya lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kita ingin membangun Bromo dengan cara yang benar. Alamnya harus lestari, budayanya harus kuat, dan masyarakatnya harus sejahtera,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kawasan Bromo merupakan ruang hidup bersama yang mencakup kepentingan konservasi, nilai adat masyarakat Tengger, aktivitas ekonomi, serta tanggung jawab negara. 

Oleh karena itu, pembangunan harus dilaksanakan secara disiplin, akuntabel, tepat mutu, dan tepat waktu tanpa mengurangi nilai ekologis maupun budaya kawasan.

Di akhir sambutannya, Khofifah secara resmi memulai pembangunan JLKT sekaligus meresmikan sarana prasarana air bersih kawasan Kaldera Bromo.

“Dengan memohon ridha Allah SWT, Groundbreaking Penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger secara resmi saya nyatakan dimulai. Semoga membawa manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan keberlanjutan kawasan,” pungkasnya.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Resmikan Gedung Gerha Majapahit & GOR BPBD Jatim: Perkuat Logistik Kebencanaan

Sementara itu, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kemenhut Satyawan Pudyatmoko menyampaikan, JLKT menjadi penguat daya dukung alam, lingkungan sekaligus membangun harmoni diantara tokoh adat budaya Tengger.

“JLKT ini bagaimana kita membangun harmoni dengan kekuatan adat dan budaya, menyiapkan format titik kekuatan spiritual dan adat suku Tengger supaya tetap terjaga,” kata Satyawan.

“Ini komitmen kita bersama, semoga menjadi hal yang bisa berjalan dengan baik. Desainnya terencana dengan baik, terintegrasi dengan UMKM, rest area, dan jalur wisata,” tutupnya.  ***

Load More