- Aparat kepolisian membubarkan paksa aksi Front Anti Kapitalisme di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Jumat malam.
- Petugas menangkap belasan orang, termasuk mahasiswa, pekerja informal, hingga penjual es yang berada di sekitar lokasi kejadian.
- KontraS Surabaya mendalami alasan penangkapan dan dugaan kekerasan fisik karena pihak kepolisian belum memberikan penjelasan resmi hingga kini.
SuaraJatim.id - Suasana di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, panas, Jumat malam (26/6/2026). Pembubaran paksa oleh aparat kepolisian menyisakan barisan trotoar yang kosong dan belasan massa aksi yang digiring masuk ke dalam mobil petugas.
Bukan hanya aktivis bersuara lantang yang ditangkap polisi, namun juga mereka yang sedang mencari sesuap nasi.
Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fathul Khoir, mengaku sudah mengantongi empat identitas dari belasan orang yang ditangkap. Ironisnya, mereka yang diciduk bukan hanya para penggerak massa.
"Ada dua mahasiswa dan dua pekerja informal. Salah satu yang kami tahu bekerja sebagai penjaga warung kopi," ungkap Khoir dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.
Di antara massa yang diangkut, dilaporkan terdapat seorang penjual es jinjing yang biasa menjajakan dagangannya di sekitar Grahadi. Nasibnya kini menggantung, bersanding dengan mahasiswa dan buruh yang tergabung dalam Front Anti Kapitalisme.
Hingga berita ini diturunkan, kabut masih menyelimuti alasan di balik penangkapan tersebut. KontraS Surabaya menegaskan bahwa pihak kepolisian belum memberikan penjelasan resmi mengenai dasar hukum penahanan belasan orang tersebut.
"Ini yang belum kita ketahui, apa dasar mereka ditangkap hari ini? Kami masih terus memantau dan melakukan pendataan mendalam," tegas Khoir.
Tak sekadar mendata nama, KontraS juga tengah menyelidiki dugaan adanya kekerasan fisik yang dialami massa saat proses pembubaran paksa berlangsung. Tim hukum disiagakan, siap memberikan pendampingan bagi mereka yang kehilangan kebebasannya malam ini.
Aksi yang berakhir ricuh ini bukanlah tanpa sebab. Front Anti Kapitalisme membawa rapor merah berisi 11 tuntutan krusial bagi pemerintah.
Baca Juga: Indonesia Sekarat! Amuk Massa di Grahadi dan Meme Kowarso yang Membakar Surabaya
Isu-isu yang diusung pun sangat menyentuh akar rumput, mulai dari jeritan harga kebutuhan pokok dan BBM yang melambung, hingga penolakan terhadap proyek reklamasi Surabaya Waterfront Land.
Mereka juga menyoroti sektor keamanan dengan menuntut pencabutan UU Polri dan TNI, serta mendesak perluasan lapangan kerja yang layak bagi kaum tunakarya.
Berita Terkait
-
Indonesia Sekarat! Amuk Massa di Grahadi dan Meme Kowarso yang Membakar Surabaya
-
Maut di Balik Pintu Terkunci: Misteri Tewasnya Wanita Jombang di Kamar Kos Putat Jaya Surabaya
-
Sembunyikan Sabu di Area Vital, Wanita Ini Tak Berkutik di Tangan Petugas Lapas Surabaya
-
Gara-gara Beda Baju, 2 Pemuda di Surabaya Dikeroyok Kelompok Perguruan Silat
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Dorong Inklusi Keuangan, BRImo Raih 3,32 Miliar Transaksi dengan Volume Rp4.166 Triliun
-
Pelajar Trenggalek Dilarikan ke RSUD dr Soedomo Akibat Keracunan MBG
-
Hari Pramuka ke-65, Gubernur Khofifah Ajak Pramuka Jatim Jadi Penggerak Swasembada Pangan
-
Ledakan Hebat SPPG Puri Medali Mojokerto, 5 Orang Alami Luka Bakar Serius
-
Prahara Chat Aborsi Viral: Karier Sang Duta Wisata Tio Ferdian Terjerembab