- Mila Arlinda, alumnus Fapet UGM, berhasil membangun bisnis peternakan modern Kerabat Ternak di Desa Kebonagung, Kabupaten Tuban sejak 2021.
- Usaha ini mengelola penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga sarana produksi dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
- Bisnis tersebut kini telah memperluas jangkauan pasar di Jawa Timur serta memberikan dampak edukasi dan pemberdayaan bagi masyarakat sekitar.
SuaraJatim.id - Di sebuah sudut Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, aroma khas kandang bercampur suara kambing dan domba menjadi bagian dari keseharian seorang perempuan muda bernama Mila Arlinda.
Di usianya yang belum genap 28 tahun, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) tahun 2021 itu berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1-3 yang kini dikenal luas hingga berbagai daerah di Jawa Timur.
Di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan sulit menghadirkan kesejahteraan, Mila justru membuktikan sebaliknya.
Bersama sang suami, Sahroni, ia mengembangkan usaha kambing dan domba yang kini memiliki berbagai lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak).
Dari usaha yang dahulu dimulai secara sederhana, kini perputaran omzet Kerabat Ternak mampu mencapai ratusan juta rupiah.
“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,”kenang Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak, Tuban.
Namun, keraguan itulah yang justru menjadi pemantik semangatnya. Lahir pada 1 Januari 1999 dari keluarga sederhana, yakni ayah seorang pengusaha kayu, sementara ibunya ibu rumah tangga, Mila tumbuh dengan karakter pekerja keras dan terbiasa hidup mandiri.
Ketertarikannya pada dunia peternakan sudah muncul sejak remaja. Bahkan jauh sebelum menjadi mahasiswa, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA kelas 2 pada 2014, Mila mulai memelihara lima ekor domba.
Dari kandang kecil itulah perjalanan panjangnya dimulai.
Baca Juga: Arogan: Badut Dipaksa Sujud di Bawah Kaki Oknum Polisi Tuban
Saat resmi menyelesaikan pendidikan di Fapet UGM pada 2021, Mila memutuskan untuk fokus menekuni usaha ternak. Ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.
Baginya, pendidikan peternakan bukan sekadar teori.
“Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.
Selama kuliah, Mila dikenal aktif belajar langsung dari para dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah. Ia percaya bahwa keberhasilan peternakan lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan.
“Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan,” katanya.
Perjalanan bisnisnya pun tidak selalu berjalan mulus. Kematian ternak yang ia pelihara menjadi pembelajaran. Namun, setiap kali ada kematian Mila selalu melakukan observasi sebagai bahan pembelajaran agar tidak terulang.
Dari pengalaman tersebut, ia semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba.
Kini, Kerabat Ternak 1-3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya fokus pada jumlah populasi, tetapi juga kualitas ternak dan kenyamanan hewan.
Selain kebersihan, pakan juga dikelola secara serius. Mila memiliki lahan hijauan pakan ternak seluas sekitar 1,5 hektare dan memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu serta kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Berbeda dengan sebagian peternak yang mengejar populasi besar, Mila justru lebih fokus pada kualitas dan genetika ternak.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Untuk kambing kualitas unggul, harga jual bisa mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta.
Tidak hanya menjual ternak kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan bisnis sapronak seperti susu cempe, vitamin, hingga peralatan peternakan yang dipasarkan ke berbagai daerah.
Momentum Iduladha menjadi salah satu puncak usaha mereka. Dalam dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah bisnis sarana produksi ternak sekitar Rp75 juta.
Pasar ternaknya kini meluas hingga Lamongan, Bojonegoro, dan berbagai wilayah lain di Jawa Timur.
Tidak berhenti di usaha ternak, sejak 2023 Mila juga aktif mengedukasi masyarakat tentang dunia peternakan melalui media sosial dan TikTok. Konten-konten edukatif yang ia buat menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus memperkuat branding bahwa dunia peternakan modern membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan lapangan.
Di sisi lain, keberadaan Kerabat Ternak juga mulai memberi dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini Mila dan suaminya memiliki dua orang karyawan dan aktif membangun kelompok ternak bersama masyarakat.
Salah satunya dirasakan Erma, anggota kelompok ternak binaan Mila. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam distribusi susu kambing.
“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.
Manfaat serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa PKL dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia mengaku senang dapat belajar langsung di peternakan tersebut.
“Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.
Bagi Mila, kesuksesan bukan hanya soal keuntungan pribadi, melainkan bagaimana peternakan dapat menjadi ruang belajar, pemberdayaan, dan sumber penghidupan masyarakat.
Dari lima ekor domba yang dipelihara semasa SMA, kini Mila Arlinda tumbuh menjadi salah satu peternak muda inspiratif yang membawa semangat peternakan modern berbasis ilmu pengetahuan, praktik lapangan, dan pemberdayaan masyarakat.
Keberanian menembus stigma, ketekunan menghadapi kegagalan, serta konsistensinya membangun usaha membuat Mila layak menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan.
Di balik kandang-kandang ternaknya, tersimpan cerita tentang keberanian bermimpi, ketangguhan menghadapi kegagalan, dan keyakinan bahwa peternakan bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian yang mampu menghadirkan kesejahteraan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Kisah Inspiratif Mila Arlinda Ubah Stigma Peternakan, Dari 5 Ekor Domba Jadi Omzet Ratusan Juta
-
Ricuh Demo Grahadi Surabaya, Massa Berhoodie dan Bermasker Diduga Jadi Pemicu Kerusuhan
-
Khofifah Apresiasi BBIB Singosari atas Keberhasilan Produksi Semen Beku Sapi Wagyu dan Belgian Blue
-
Misteri Pria Ber-sweater Hitam: Jasad Tanpa Identitas Mengambang di Arus Dam Rolak 9 Mojokerto
-
Misteri Kematian ASN Bangkalan di Bandara Juanda: Sosok Pria Bermasker Jadi Sorotan