SuaraJatim.id - Kinerja pembangunan Jawa Timur pada Semester I Tahun 2026 menunjukkan capaian yang semakin berkualitas. Di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global, Jawa Timur tidak hanya mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa, tetapi juga berhasil menekan angka kemiskinan dan pengangguran secara bersamaan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Jawa Timur Semester I Tahun 2026 tumbuh sebesar 5,84 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 5,45 persen. Pada saat yang sama, persentase penduduk miskin turun menjadi 9,06 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun menjadi 3,42 persen atau jauh di bawah angka nasional yang mencapai 4,65 persen.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga semakin berkualitas karena mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Alhamdulillah, di tengah ketidakpastian dan dinamika global, Jawa Timur mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa dan melampaui capaian nasional. Pada saat yang sama, jumlah penduduk miskin dan pengangguran juga menurun. Ini merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh elemen di Jawa Timur,” ujarnya.
Khofifah menyebut, capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, akademisi, serta seluruh elemen masyarakat yang terus menjaga stabilitas sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di Jawa Timur.
Data BPS menunjukkan, ekonomi Jawa Timur pada Triwulan II Tahun 2026 tumbuh 5,84 persen (cumulative to cumulative/c-to-c), tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Khofifah menjelaskan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor-sektor produktif yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur, yakni industri pengolahan dengan kontribusi 31,27 persen, perdagangan 18,49 persen, serta pertanian sebesar 10,87 persen.
Dengan struktur tersebut, Jawa Timur tetap menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian Pulau Jawa dengan kontribusi 25,40 persen serta penyumbang terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 14,34 persen.
“Capaian ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur konsisten melakukan akselerasi aktivitas ekonomi masyarakat. Fondasi ekonomi kita ditopang oleh sektor-sektor produktif yang kuat, mulai dari industri, perdagangan, hingga pertanian,” kata Khofifah.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang Jatim-Riau, Sukses Catat Transaksi Rp 1 Triliun Lebih
Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi pada Semester I Tahun 2026 berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,76 persen. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya okupansi hotel dan penginapan selama musim liburan, meningkatnya aktivitas pariwisata, serta menguatnya kinerja jasa boga, termasuk melalui perluasan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi pemerintah yang meningkat 19,80 persen, didorong realisasi pembayaran gaji ke-13 ASN, peningkatan belanja barang dan jasa, serta pelaksanaan berbagai program pelayanan publik.
Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan pertumbuhan tersebut mengurangi kemiskinan.
Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Jawa Timur turun menjadi 9,06 persen dari sebelumnya 9,30 persen pada September 2025 atau turun 0,24 poin persentase. Penurunan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian nasional yang turun sebesar 0,18 poin persentase.
Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 92.060 jiwa, dari 3.804.290 jiwa menjadi 3.712.230 jiwa. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan kontribusi penurunan jumlah penduduk miskin terbesar kedua secara nasional.
“Capaian ini menunjukkan bahwa berbagai ikhtiar penanggulangan kemiskinan yang dilakukan secara kolaboratif mulai memberikan hasil nyata. Yang terpenting bukan hanya semakin sedikit masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi kualitas hidup masyarakat miskin juga terus membaik,” katanya.
Berita Terkait
-
Gubernur Khofifah Beri Kado Kemerdekaan HUT ke-81 RI: Bebaskan Pajak Daerah, Ringankan Beban Warga
-
Hari Anak Nasional 2026, Gubernur Khofifah Dorong Pemenuhan Hak Anak sebagai Investasi Bangsa
-
Komitmen Menjaga Transparansi ke Media, Gubernur Khofifah Raih Pimred Award 2026 dari Dewan Pers RI
-
Gubernur Khofifah Luncurkan Gernas Rana MPLS Ramah 2026, Pastikan Siswa Belajar Aman Tanpa Kekerasan
-
Khofifah Sambut 152 Siswa ADEM Papua di Jatim, Tegaskan Komitmen Cetak SDM Unggul
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Banjir Rendam Sawah, Petani Bawang Merah Tulungagung Rugi Belasan Juta
-
Hampir Mati Sia-sia! Detik-detik Pria Tulungagung Batal Jadi Tentara Bayaran Rusia
-
Kasus Penyadapan Prabowo, Haedar Nashir Beri Pesan Menohok ke Polri
-
Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali dalam Tiga Jam, Awan Panas Meluncur hingga 4,5 Kilometer
-
Politisi Gerindra Singgung Penyandang Dana Kasus Penyadapan Prabowo, Siapa Dia?