Wakos Reza Gautama
Kamis, 06 Agustus 2026 | 13:27 WIB
Jenazah Maliya Finda (51), pendaki yang ditemukan meninggal dunia di medan ekstrem kawasan Punggung Naga Gunung Piramid, Kabupaten Bondowoso, dimakamkan di kampung halamannya di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Kamis (6/8/2026). [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Jenazah Maliya Finda dimakamkan di TPU Babat, Lamongan, pada Kamis pagi, 6 Agustus 2026.
  • Almarhumah sebelumnya dilaporkan hilang bersama pemandunya di jalur ekstrem Gunung Piramid, Bondowoso.
  • Tim SAR Gabungan menemukan korban di kedalaman jurang 60 meter setelah melakukan pencarian intensif.

SuaraJatim.id - Fajar menyingsing di Kecamatan Babat, Lamongan, Kamis (6/8/2026) pagi, membawa serta kepulangan seorang putri daerah yang menuntaskan perjalanan panjangnya.

Bukan dari puncak gunung yang biasa ia daki, melainkan dalam balutan kain kafan yang mengiringi langkah terakhirnya menuju peristirahatan abadi.

Maliya Finda (51), pendaki tangguh yang namanya sempat menghiasi tajuk berita nasional setelah dinyatakan hilang di jalur ekstrem Gunung Piramid, Bondowoso, akhirnya dimakamkan di kampung halamannya.

Isak tangis pecah saat jenazah tiba sekitar pukul 06.00 WIB, menyambut kepulangan sosok yang dikenal tak pernah lelah mengejar cakrawala.

Bagi warga Babat, Maliya bukan sekadar korban kecelakaan gunung. Ia adalah representasi dari semangat kebebasan. Yono, salah satu kawan lama dan adik kelas almarhumah di SMP Negeri 1 Babat, mengenang Maliya sebagai sosok yang sudah berteman dengan alam sejak usia remaja.

"Dari dulu beliau pribadinya memang petualang. Teman-teman sekolah semua mengakui itu. Ramah, namun memiliki tekad yang kuat," kenang Yono di sela prosesi pemakaman di TPU Babat dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Kegemaran Maliya menjelajahi ketinggian bukanlah hobi sesaat. Sejak masa kuliah hingga usianya menginjak kepala lima, ia terus konsisten menapaki puncak-puncak gunung di Indonesia. Alam bebas adalah rumah keduanya, tempat ia menemukan ketenangan di tengah rimbunnya hutan dan dinginnya kabut.

Namun, takdir memiliki jalannya sendiri. Perjalanan Maliya kali ini terhenti di Gunung Piramid, gunung yang dikenal memiliki jalur Punggung Naga, sebuah titian sempit dengan jurang menganga di kedua sisinya.

Maliya dilaporkan hilang bersama pemandunya, Irfan Nasrul Laili (34). Setelah pencarian intensif, Tim SAR Gabungan menemukan keduanya berada di kedalaman jurang sekitar 60 meter. Jarak mereka hanya terpaut lima meter, saksi bisu betapa ganasnya medan yang mereka hadapi.

Baca Juga: Maut di Jalur Punggung Naga: Perjuangan Dramatis Evakuasi Jenazah dari Tebing Gunung Piramid

Proses evakuasi pun menjadi catatan sejarah perjuangan kemanusiaan yang luar biasa. Tim penyelamat harus bertaruh nyawa di medan yang curam dan sempit demi membawa pulang Maliya dan Irfan agar bisa disemayamkan dengan layak.

Load More