Wakos Reza Gautama
Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:31 WIB
Ilustrasi tenggelam. Bocah kelas 3 SD berinisial MBD tewas tenggelam saat mandi di sungai Dusun Sudimoro, Mojokerto, pada Kamis (13/8/2026).[Unsplash/@blakecheekk]
Baca 10 detik
  • Bocah kelas 3 SD berinisial MBD tewas tenggelam saat mandi di sungai Dusun Sudimoro, Mojokerto, pada Kamis (13/8/2026).
  • Korban terseret ke bagian sungai sedalam enam meter, dan warga setempat yang melakukan pencarian menemukannya dalam kondisi meninggal dunia.
  • Hasil pemeriksaan medis menunjukkan tidak ada tanda kekerasan, dan keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah tanpa autopsi.

SuaraJatim.id - MBD (9), bocah kelas 3 SD, bersama teman-teman sebayanya bergegas menuju tepian sungai Dusun Sudimoro, Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Kamis pagi (13/8/2026) untuk mandi bersama.

Namun, siapa sangka, aliran air yang tampak tenang itu menyimpan lubuk sedalam enam meter yang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Sekitar pukul 10.30 WIB, keceriaan itu mendadak berubah menjadi horor yang mencekam. MBD yang tengah asyik berenang perlahan bergerak ke bagian tengah sungai. Tanpa disadari, ia memasuki area kedung atau cekungan sungai yang sangat dalam.

Hanya dalam hitungan detik, tubuh mungilnya terseret ke bawah permukaan air. Teman-teman korban yang menyaksikan kejadian itu membeku karena takut.

Tak berani terjun membantu, mereka lari terbirit-birit menuju perkampungan, memecah keheningan desa dengan teriakan minta tolong.

Warga yang mendengar kabar tersebut langsung berhamburan ke lokasi. Dengan peralatan seadanya, mereka menyelami dasar sungai yang gelap. Namun takdir berkata lain. Saat ditemukan, raga bocah sembilan tahun itu sudah tak lagi bernyawa.

"Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. Berdasarkan pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," ujar Kapolsek Kutorejo, AKP Sugeng Irawandi dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Duka mendalam menyelimuti rumah duka. Orang tua korban hanya bisa pasrah menatap pakaian terakhir sang anak, sebuah celana pendek motif doreng dan celana dalam biru, yang kini diamankan polisi sebagai bukti tragedi tersebut.

Keluarga menyatakan telah ikhlas dan menerima kejadian ini sebagai musibah dari Yang Maha Kuasa, serta menolak untuk dilakukan autopsi.

Baca Juga: Jalan Gelap Membawa Petaka: 3 Nyawa Melayang Usai 2 Motor Terlibat Adu Banteng di Mojokerto

AKP Sugeng Irawandi kembali menegaskan pentingnya pengawasan ekstra terhadap buah hati, terutama saat bermain di area yang berpotensi bahaya.

"Kami mengimbau para orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Jangan biarkan mereka mandi di lokasi yang memiliki kedalaman berbahaya tanpa pendampingan," tegasnya.

Load More