Wakos Reza Gautama
Senin, 17 Agustus 2026 | 17:11 WIB
Kementerian Kehutanan terus melakukan pendinginan dan penyisiran area bekas terbakar (mopping up) di area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali memicu kebakaran. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Tim gabungan melaksanakan operasi penyisiran untuk memadamkan sisa bara api tersembunyi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
  • Pusaran angin lokal di tengah cuaca kering berisiko menerbangkan bara api ke area hijau yang belum terdampak.
  • Kementerian Kehutanan menegaskan pentingnya memperkuat pencegahan kebakaran langsung di tingkat tapak bersama masyarakat lokal.

SuaraJatim.id - Dalam dua pekan terakhir, pemandangan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini jauh dari kata tenang.

Bau sangit sisa kebakaran masih menyengat, sementara kepulan asap tipis sesekali muncul dari balik tumpukan serasah yang menghitam.

Bagi tim Manggala Agni dan relawan, perjuangan belum usai meski api besar tak lagi menjilat langit. Kini, mereka memasuki fase yang tak kalah krusial yakni mopping up. Sebuah operasi penyisiran untuk memburu bara api yang bersembunyi di kedalaman tanah.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengungkapkan bahwa memadamkan api di Bromo adalah perkara melawan tipu daya alam. Vegetasi savana, cemara gunung, hingga lapisan pakis menciptakan tumpukan serasah yang sangat tebal.

"Kondisi ini memungkinkan bara bertahan meskipun kobaran api sudah tidak lagi terlihat," ujar Dwi, Senin (17/8/2026).

Namun, ada musuh lain yang lebih licin yakni dust devil atau pusaran angin lokal. Di tengah cuaca kering, pusaran angin ini bisa muncul tiba-tiba, mengangkat material ringan yang masih menyimpan bara, lalu menerbangkannya ke area hijau yang belum terdampak. Sedikit saja keteledoran, Bromo bisa kembali membara.

Di tengah medan yang curam dan berdebu, personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, hingga masyarakat adat Tengger tak kenal lelah melakukan pembasahan.

Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, yang memantau langsung di lapangan, memberikan apresiasi tinggi bagi para pemadam api ini.

"Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan. Fokus sekarang adalah memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar dingin," tegas Suharyono.

Baca Juga: Penanganan Karhutla Bromo Fokus Pembasahan Delapan Hotspot

Baginya, setiap tetes air yang disemprotkan ke tanah adalah investasi agar kerusakan ekologis tidak semakin meluas.

Tragedi kebakaran Bromo tahun ini memberikan satu pelajaran mahal bagi Kementerian Kehutanan di bawah kepemimpinan Menteri Raja Juli Antoni.

Pencegahan tidak bisa lagi hanya dilakukan dari balik meja di Jakarta atau Surabaya, melainkan harus diperkuat dari tingkat tapak, langsung di jantung hutan bersama masyarakat.

Masyarakat lokal bukan sekadar penonton. Mereka adalah pihak pertama yang mencium bau asap dan pihak paling pertama yang terpukul saat pariwisata Bromo lumpuh akibat api.

"Bromo memberi pelajaran penting bahwa api mungkin terkendali, tapi ancaman belum selesai. Melindungi hutan harus dilakukan bersama masyarakat," tambah Dwi Januanto. (ANTARA)

Load More