Wakos Reza Gautama
Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:41 WIB
Para kiai sepuh mengingatkan peserta Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) atau muktamirin agar menjaga marwah dan kehormatan jam'iyyah serta tidak terpengaruh tekanan, provokasi, dan pertikaian selama muktamar. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin menyampaikan tausiah penting di Kediri pada Rabu, 26 Agustus 2026.
  • Para kiai sepuh meminta Presiden Prabowo Subianto menindak pejabat yang mengintervensi Muktamar Ke-35 NU.
  • Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.

SuaraJatim.id - Di bawah naungan keteduhan Pondok Pesantren Lirboyo, suara para kiai sepuh bergema, bukan sekadar sebagai nasihat, melainkan sebagai kompas moral bagi jutaan nahdliyin.

Menjelang perhelatan akbar Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), para penjaga gawang spiritual organisasi ini mengirimkan pesan tegas untuk jaga marwah jam’iyyah dari segala bentuk polusi kepentingan.

Mustasyar PBNU, KH Ma’ruf Amin, mengingatkan bahwa Muktamar bukan sekadar ajang perebutan kursi kepemimpinan. Baginya, setiap suara yang dilepaskan oleh para muktamirin adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan sejarah dan Tuhan.

"Tausiah ini adalah pengingat. Muktamirin adalah pemegang hak utama. Gunakan hak itu dengan bijak, jangan mau terintimidasi, jangan mempan diprovokasi," tegas Kiai Ma’ruf usai pertemuan tertutup para kiai sepuh di Kediri, Rabu (26/8/2026).

Kegelisahan para kiai sepuh bukan tanpa alasan. Aroma intervensi, tekanan politik, hingga bayang-bayang transaksi transaksional menjadi kekhawatiran yang nyata.

Dalam tujuh poin tausiah yang dibacakan KH Muhibbul Aman Aly, tersirat sebuah alarm peringatan agar proses pemilihan Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) tetap suci dari rekayasa.

Bagi para kiai, NU adalah rumah besar yang kemandiriannya harus dijaga layaknya benteng terakhir moral bangsa. Tak tanggung-tanggung, para kiai sepuh pun menitipkan pesan khusus bagi penghuni Istana.

Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto untuk tidak segan-segan menindak tegas pejabat negara yang kedapatan bermain atau melakukan intervensi tidak patut dalam proses Muktamar. Ini adalah seruan agar kekuasaan menghormati kedaulatan ulama.

"Pilihlah yang terbaik, bukan karena kepentingan pribadi atau kelompok, tapi karena kemampuannya membawa NU ke arah yang lebih baik," lanjut Kiai Ma'ruf.

Baca Juga: Heboh Munculnya Kartu Chip Jelang Muktamar ke-35 NU, Ini Penjelasan Panitia

Sesuai jadwal, genderang Muktamar Ke-35 NU akan ditabuh pada 27–31 Agustus 2026. Bertempat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tanah kelahiran para pendiri NU, hajatan besar ini rencananya akan dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. (ANTARA)

Load More