Wakos Reza Gautama
Selasa, 29 September 2026 | 17:17 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengimbau masyarakat tidak panik dengan suara dentuman Gunung Semeru saat erupsi, namun tetap meningkatkan kewaspadaan terkait dengan aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Gunung Semeru menyemburkan asap dan suara dentuman keras pada Senin, 28 September 2026, tanpa kerusakan fisik.
  • BPBD Lumajang menyatakan suara dentuman akibat dinamika pelepasan energi vulkanik yang normal terjadi setelah jeda letusan.
  • PVMBG mempertahankan status Gunung Semeru pada Level III Siaga serta melarang aktivitas di sekitar Besuk Kobokan.

SuaraJatim.id - Suara dentuman keras kembali menggelegar dari puncak Gunung Semeru pada Senin (28/9/2026) malam sekitar pukul 21.01 WIB.

Suara gemuruh tersebut terdengar jelas hingga permukiman di lereng gunung dan terekam jelas oleh kamera pengawas (CCTV) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang di Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo.

Rekaman visual menunjukkan dentuman kuat tersebut terjadi bersamaan dengan letusan yang menyemburkan kolom asap tebal di atas Kawah Jonggring Saloko.

Meski sempat memicu kekhawatiran warga, BPBD memastikan peristiwa tersebut tidak menimbulkan dampak kerusakan fisik.

"Dentuman terdengar bersamaan dengan aktivitas letusan dan kepulan kolom asap. Hingga saat ini situasi di lapangan tetap aman dan terkendali. Kami mengimbau masyarakat tidak panik berlebihan, namun tetap menjaga kewaspadaan," ujar Pelaksana Tugas Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, Selasa (29/9/2026).

Fenomena suara dentuman ini nyatanya bukan kali pertama terjadi. Koordinator Pos Pantau Curah Kobokan, Sugiono, membeberkan bahwa suara dentuman dari perut gunung tertinggi di Pulau Jawa ini justru terbilang cukup intens dalam rentang dua hingga tiga bulan terakhir.

Sugiono menjelaskan, suara tersebut merupakan bagian dari dinamika pelepasan energi vulkanik yang lazim terjadi setelah fase letusan mengalami jeda waktu tertentu.

"Dentuman umumnya muncul ketika letusan Semeru sempat terhenti atau mengalami jeda yang cukup lama. Jadi, suara dentuman tidak serta-merta menandakan kondisi gunung mendadak memburuk secara ekstrem. Evaluasi tetap mengacu pada data instrumentil," jelas Sugiono.

Meskipun dentuman merupakan dinamika normal, status Gunung Semeru hingga kini masih dipatok pada Level III (Siaga).

Baca Juga: Waspada! Gunung Semeru Erupsi Lagi, Kolom Abu Vulkanik Tembus 1,3 Kilometer

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan agar masyarakat mematuhi batas perimeter steril.

Masyarakat, penambang pasir, maupun wisatawan dilarang keras beraktivitas di:

  • Sektor Tenggara: Sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi.
  • Sempadan Sungai: Berjarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, karena adanya ancaman perluasan awan panas guguran (APG) dan lahar hingga radius 17 kilometer.

Selain Besuk Kobokan, potensi bahaya lahar dingin dan guguran lava juga mengintai sejumlah daerah aliran sungai yang berhulu di Semeru, seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, terutama saat kawasan puncak diguyur hujan lebat.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpancing isu liar dan selalu menyaring informasi kebencanaan hanya melalui kanal resmi BPBD Lumajang, Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, serta Badan Geologi/PVMBG. (ANTARA)

Load More