Budi Arista Romadhoni
Senin, 06 Juli 2026 | 08:31 WIB
Gunung Semeru erupsi dengan letusan setinggi 1 kilometer di atas puncak pada Senin (6/7/2026) ANTARA/HO-PVMBG
Baca 10 detik
  • Gunung Semeru mengalami erupsi dengan kolom abu setinggi satu kilometer pada Senin, 6 Juli 2026, pukul 05.13 WIB.
  • Status Gunung Semeru kini berada pada Level III Siaga dengan larangan aktivitas masyarakat dalam radius lima kilometer kawah.
  • Pemerintah Lumajang memperingatkan penambang pasir akan bahaya letupan sekunder dari sisa material vulkanik panas di sepanjang aliran sungai.

SuaraJatim.id - Erupsi Gunung Semeru pada Senin (6/7/2026) pagi tak hanya memunculkan kolom abu setinggi 1 kilometer di atas puncak. Pemerintah Kabupaten Lumajang juga mengingatkan adanya ancaman lain yang kerap luput dari perhatian, yakni material vulkanik yang masih menyimpan panas dan berpotensi memicu letupan sekunder, terutama di kawasan penambangan pasir.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi terjadi pada pukul 05.13 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 1 kilometer di atas puncak atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, mengatakan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke utara.

"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 05.13 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1 kilometer di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl)," katanya dalam laporan tertulis.

Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 167 detik.

Hingga saat ini, aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Status Level III (Siaga). Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.

Di luar kawasan tersebut, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak awan panas maupun aliran lahar hingga jarak 17 kilometer.

Selain itu, masyarakat dilarang memasuki radius lima kilometer dari kawah karena masih berisiko terkena lontaran material pijar. Warga juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, serta lahar di sejumlah aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Di sisi lain, Bupati Lumajang Indah Amperawati mengingatkan masyarakat, khususnya penambang pasir, agar tidak menganggap endapan material vulkanik sebagai kondisi yang aman.

Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi Lagi, Kolom Abu Capai 400 Meter dari Puncak

"Jangan pernah menganggap timbunan material di kawasan Semeru sepenuhnya aman. Material itu bisa saja masih panas dan dalam kondisi tertentu menimbulkan bahaya bagi masyarakat, khususnya penambang," katanya.

Menurut Indah, ancaman di kawasan Semeru tidak hanya berasal dari erupsi dan awan panas. Material vulkanik yang terbawa hingga ke aliran sungai masih dapat menyimpan suhu tinggi dan sewaktu-waktu memicu letupan sekunder yang membahayakan aktivitas penambangan.

"Material yang tampak diam atau telah mengendap belum tentu sepenuhnya aman untuk didekati atau ditambang," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa risiko dapat meningkat saat hujan mengguyur kawasan puncak dan lereng Gunung Semeru. Air hujan berpotensi menggerakkan endapan material vulkanik di sepanjang aliran sungai sehingga meningkatkan ancaman lahar maupun bahaya bagi warga yang beraktivitas di sekitar kawasan penambangan.

"Masyarakat diimbau tidak hanya memperhatikan informasi tentang erupsi atau awan panas, tetapi juga memahami risiko dari material vulkanik sisa erupsi yang masih berada di sepanjang aliran sungai dan kawasan penambangan," katanya.

Load More