Wakos Reza Gautama
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:55 WIB
Irwan Mujiono, sopir asal Kandat, Kediri, selamat setelah KMP Virgo Transport 8 tenggelam pada 13 September 2026. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Sopir ekspedisi Irwan Mujiono selamat dari tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa pada 13 September 2026.
  • Irwan menyelamatkan diri menggunakan galon air kosong setelah kapal feri tersebut karam dengan cepat tanpa alarm darurat.
  • Korban berhasil dievakuasi ke Banjarmasin, namun ia mengalami trauma mendalam akibat kehilangan rekan kerjanya yang belum ditemukan.

SuaraJatim.id - Dini hari 13 September 2026 itu menjadi garis batas hidup dan mati bagi Irwan Mujiono (35). Di tengah Laut Jawa yang pekat, sopir ekspedisi asal Kediri ini menyaksikan kapal feri KMP Virgo Transport 8 karam dalam hitungan menit, sebuah petaka kilat yang menelan truk, harta benda, dan menorehkan trauma mendalam atas hilangnya sang rekan kerja.

Semua bermula saat Irwan dan rekannya, Aris, bertolak dari Surabaya membawa truk sarat suku cadang menuju Buntok, Kalimantan Tengah. Pelayaran semula berjalan wajar. Namun, saat jarum jam menunjuk pukul 01.30 WITA, kengerian dimulai.

Kala itu, Irwan tengah mengantre jatah makan malam sembari memijat pipi Aris yang sedang meringis kesakitan akibat sakit gigi. Tiba-tiba, seorang penumpang berteriak histeris dari arah luar dek: kapal mulai miring!

Tidak ada raungan alarm darurat. Tak ada pula pengumuman evakuasi dari awak kapal. Informasi mara bahaya itu murni bergulir dari mulut ke mulut antar-penumpang yang panik.

"Kalau tidak ada orang luar yang teriak, mungkin saya sudah mati di dalam. Kejadiannya tidak sampai 15 menit. Cepat sekali," kenang Irwan dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Dalam sekejap, sudut kemiringan kapal nyaris menyentuh 90 derajat. Aliran listrik mendadak padam, menjerumuskan seisi kapal ke dalam kegelapan gulita.

Tirai-tirai kabin terseret gravitasi, barang-barang berhamburan, dan penumpang tidur terbangun dalam kepanikan luar biasa.

Irwan bergerak cepat menembus lorong yang kacau. Di dekat ruang istirahat sopir, ia menemukan boks pelampung terbuka. Ia menyambar dua buah, satu untuk dirinya, satu lagi ia pasangkan ke tubuh Aris.

Nahas, hantaman dinding kabin yang jebol dan desakan massa memisahkan cengkeraman tangan mereka. Itu menjadi momen terakhir Irwan melihat wajah rekannya.

Baca Juga: Rencana Nikah Berujung Bui: Sejoli di Kediri Tega Habisi dan Kubur Bayi demi Tutupi Aib

Berhasil keluar ke dek luar, Irwan menyaksikan pemandangan mengerikan yang tak pernah ia bayangkan seumur hidup.

"Orang-orang sudah berdiri miring di pagar sebelah kanan. Persis seperti adegan di film Titanic. Semua orang bergelantungan," tuturnya dengan suara tercekat.

Melihat kapal yang siap tenggelam sepenuhnya, Irwan melompat ke laut lepas demi menghindari efek pusaran air kapal karam.

Di tengah gulungan ombak malam dan tenaga yang terkuras, tangannya meraih sebuah galon air kosong yang hanyut. Benda itulah yang menjadi penyambung nyawanya.

Sembari memeluk galon di kegelapan samudra, ia menatap ngeri ke arah bangkai kapal. Puluhan senter menyala liar di permukaan air, diiringi paduan suara jeritan manusia yang putus asa.

"Saya lihat jelas di sekitar kapal banyak sekali orang. Seperti semut disebar di air laut... teriak tolong, tolong, tolong," ucapnya bergetar.

Load More