Wakos Reza Gautama
Selasa, 27 Oktober 2026 | 07:55 WIB
Sosok Dwi Bagus Martono alias Tono (40), yang kini terseret kasus dugaan pembunuhan Dini Hardiyanti (30) dan anaknya AGF (4), di mata tetangga adalah orang pendiam. [beritajatim.com]
Baca 10 detik
  • Dwi Bagus Martono alias Tono ditangkap Polda Jatim sebagai tersangka pembunuhan berencana terhadap istri siri dan balitanya.
  • Aksi pembunuhan sadis tersebut dilakukan di sebuah kamar hotel di Madiun pada tanggal 20 Oktober 2026.
  • Pelaku membakar dan menggiling jasad para korban di pekarangan rumah untuk menghilangkan jejak kejahatan tersebut.

SuaraJatim.id - Bagi warga Gang Tentrem, Jalan Doho, Kota Madiun, Dwi Bagus Martono alias Tono (40) hanyalah pria biasa yang tak banyak tingkah.

Sosoknya dikenal tenang, gemar nongkrong di warung kopi, ikut arisan warga, hingga setia menemani pos kamling saat ronda malam. Namun, di balik perangai tenangnya yang santun, tersimpan rahasia gelap yang membuat bulu kuduk berdiri.

Pria yang dianggap tak mencurigakan itu kini resmi menyandang status tersangka pembunuhan berencana paling mengerikan yang diungkap Polda Jawa Timur. Korbannya adalah istri siri Tono, Dini Hardiyanti (30), dan anak masih balita, AGF (4).

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jatim, Kombes Roy Hutton Marulamrata Sihombing, membongkar aksi keji yang dilakukan tersangka secara dingin dan terencana.

"Peristiwa pembunuhan ini cukup sadis. Pelaku pertama-tama menghabisi nyawa istri sirinya di kamar hotel di Madiun, setelah itu baru membunuh anaknya yang masih berusia empat tahun," ungkap Kombes Roy, Senin (26/10/2026).

Berdasarkan penyelidikan kepolisian, pembantaian tersebut terjadi di kamar Hotel Mataram Baru, Jalan Dr. Soetomo, Kota Madiun, pada Selasa (20/10/2026).

Yang memilukan, kedatangan Dini dan AGF jauh-jauh dari Bogor ke Madiun sejatinya adalah untuk merayakan hari ulang tahun sang balita.

Namun, pesta ulang tahun itu berakhir menjadi ladang pembantaian. Demi melenyapkan jejak kejahatannya, Tono membawa jasad ibu dan anak tersebut ke sebuah pekarangan. Di sana, pelaku membakar kedua jasad.

Tak berhenti di situ, bagian tubuh para korban yang tersisa dimasukkan ke dalam mesin penggiling daging hingga lumat, sebelum kembali dibakar.

Baca Juga: CCTV Hotel Madiun Ungkap Terduga Pelaku Pembunuhan Ibu dan Anak, Ini Sosoknya

"Untuk menghilangkan jejak, pelaku membakar korban di pekarangan rumah, dimasukkan ke mesin penggilingan daging, dibakar lagi, dan rencananya sisa-sisa jasad itu akan dibuang ke laut," papar Roy. Saat ini, polisi masih menyisir lokasi untuk menemukan serpihan tulang korban.

Polisi menduga, motif di balik aksi monster ini dipicu api dendam dan konflik rumah tangga yang memuncak, setelah istri sah Tono mengendus dan menjalin komunikasi langsung dengan Dini.

Topeng 'Pria Baik-Baik' yang Runtuh

Kabar penangkapan Tono oleh tim gabungan di Jombang pada Minggu (25/10/2026) sontak mengirimkan gelombang kejut bagi tetangga orang tuanya di Kelurahan Winongo.

Eko Sumaryono, salah seorang tetangga dekat, mengaku masih tak habis pikir pria yang kerap duduk bercengkerama dengannya di pos ronda sanggup berbuat sekeji itu.

"Kalau di lingkungan sini ya biasa saja. Kadang ikut arisan, nongkrong di warung, sering kumpul di pos kamling bareng anak-anak saya. Orangnya kelihatan sangat tenang. Makanya saya benar-benar tidak menyangka, tidak pernah terpikir bakal terjadi kejadian seperti ini," ujar Eko getir, Senin (26/10/2026) dikutip dari beritajatim.com--jaringan Suara.com.

Load More